Mungkin Michael Sarnoski sedang lelah pada dunia yang terlalu percaya bahwa setiap cerita harus berakhir dengan harapan. Maka lahirlah “The Death of Robin Hood“, sebuah film yang seolah berkata, “Lupakan pahlawan. Lupakan penebusan. Dunia memang seburuk itu.” Masalahnya, setelah hampir dua jam dicekoki kesuraman tanpa jeda, pertanyaan yang tersisa bukan lagi “Apakah Robin Hood layak diperlakukan seperti ini?”, melainkan “Mengapa penonton juga harus ikut dihukum?”
Selama berabad-abad, Robin Hood dikenal sebagai sosok yang merampas milik kaum berada demi membantu mereka yang kekurangan. Kali ini, semua itu dibuang begitu saja. Robin Hood versi Sarnoski bukan pahlawan, bukan pula antihero yang rumit. Ia hanyalah lelaki tua yang hidup dari dosa-dosanya, membunuh tanpa banyak penyesalan, lalu menghabiskan sisa usianya dengan wajah muram seolah dunia berutang kebahagiaan kepadanya.
Hugh Jackman tampil luar biasa. Sulit membantah dedikasinya. Ia menghadirkan Robin sebagai manusia yang nyaris kehilangan seluruh sisa kemanusiaannya. Tatapannya kosong, langkahnya berat, dan wajahnya menyimpan lebih banyak luka daripada harapan. Namun sehebat apa pun penampilannya, aktor terbaik pun tidak selalu mampu membuat karakter yang sengaja dijauhkan dari simpati menjadi menarik untuk diikuti.
Sarnoski tampaknya benar-benar berkomitmen menghapus setiap romantisme yang pernah melekat pada legenda ini. Tidak ada aksi memanah yang heroik. Tidak ada petualangan yang memacu adrenalin. Tidak ada semangat melawan tirani. Yang ada hanyalah darah, lumpur, hujan, luka dan keheningan yang begitu pekat hingga rasanya suara napas sendiri terdengar mengganggu.
Adegan pembuka langsung menjadi semacam “kontrak” antara film dan penonton. Jika masih berharap kisah Robin Hood yang gagah berani, sebaiknya keluar bioskop saat itu juga. Sarnoski tidak sedang mengadaptasi legenda. Ia sedang mengautopsinya.
Atmosfer menjadi senjata utama film ini. Sinematografi yang muram, tata suara yang keras, musik rakyat yang terdengar seperti nyanyian pemakaman, hingga lanskap pegunungan yang dingin berhasil membangun dunia yang nyaris tanpa kehidupan. Semua terasa indah secara visual, tetapi juga begitu gigih menguras energi. Menontonnya seperti berjalan menembus kabut tebal sambil memanggul batu. Artistik? Tentu. Menyenangkan? Itu cerita lain.
Bill Skarsgård menghadirkan Little John dalam versi yang sama sekali asing. Tidak lagi menjadi sahabat besar berhati hangat, melainkan sosok liar yang lebih menyerupai predator daripada manusia. Transformasi ini memang konsisten dengan visi film, tetapi sekaligus mempertegas bahwa hampir semua karakter di sini berlomba menjadi pribadi yang paling sulit disukai.
Ketika Suster Brigid hadir dan mulai merawat Robin, film sempat memberi isyarat bahwa secercah harapan akhirnya datang. Jodie Comer tampil lembut, tenang, dan menjadi satu-satunya cahaya kecil di tengah dunia yang hampir seluruhnya dipenuhi bayangan. Sayangnya, cahaya itu tidak pernah benar-benar dibiarkan bersinar. Setiap kemungkinan penebusan selalu buru-buru ditarik kembali ke dalam jurang pesimisme.

Di sinilah persoalan terbesar “The Death of Robin Hood” muncul. Film ini sangat ingin menjadi refleksi tentang dosa, iman, kematian dan pengampunan. Sayangnya, ia terlalu sibuk mengagungkan kesuramannya sendiri hingga lupa bahwa penonton juga membutuhkan alasan untuk peduli. Gelap bukanlah kedalaman. Muram bukan otomatis berarti bermakna. Kadang, gelap hanya… gelap.
Ironisnya, Michael Sarnoski pernah menghasilkan “Pig“, sebuah film yang membuktikan bahwa kelembutan bisa jauh lebih menghancurkan daripada kekerasan. Bahkan “A Quiet Place: Day One” masih menyisakan ruang bagi kasih sayang di tengah kiamat. Namun kali ini, ia seolah sengaja mengunci seluruh pintu keluar. Seakan-akan setiap harapan dianggap kelemahan yang harus dibunuh sebelum sempat tumbuh.
Bukan berarti film ini gagal secara teknis. Justru sebaliknya. Penyutradaraan Sarnoski tetap presisi, sinematografinya memesona, tata suaranya mengintimidasi, dan Hugh Jackman memberikan salah satu penampilan paling berani dalam kariernya. Namun semua keunggulan itu terasa seperti membangun katedral megah hanya untuk menggelar misa tanpa jemaat. Indah dipandang, tetapi sulit menemukan alasan untuk kembali.
Pada akhirnya, “The Death of Robin Hood” terasa seperti surat cinta bagi para penggemar reinterpretasi gelap yang ekstrem, tetapi sekaligus surat penolakan bagi penonton umum yang masih berharap menemukan denyut kemanusiaan dalam kisah seorang legenda. Film ini berhasil membunuh mitos Robin Hood. Sayangnya, ia juga nyaris membunuh ketertarikan penonton untuk terus mengikutinya hingga akhir.
Mungkin memang itu tujuan Sarnoski sejak awal. Jika demikian, ia berhasil. Hanya saja, tidak semua keberhasilan layak dirayakan.














