Setelah bertahun-tahun genre film laga Hong Kong terasa kehilangan taringnya di panggung internasional, “The Furious” hadir bak pukulan telak yang membangunkan kembali kejayaan tersebut. Disutradarai oleh koreografer aksi kenamaan Kenji Tanigaki, film berdurasi 1 jam 53 menit ini bukan sekadar tontonan penuh adrenalin, melainkan sebuah pernyataan bahwa sinema laga Hong Kong masih mampu berdiri di garis depan dengan gagah dan penuh percaya diri.
Berangkat dari gagasan sederhana produser legendaris Bill Kong—“Mari membuat film bela diri terbaik”—hasil akhirnya terasa seperti surat cinta untuk penggemar aksi sekaligus tantangan terbuka bagi film-film laga modern yang terlalu bergantung pada efek visual digital.
Misi Penyelamatan yang Sederhana, Namun Efektif
Secara cerita, “The Furious” memang tidak menawarkan alur yang rumit. Film ini mengikuti perjalanan Wang Wei (Xie Miao), seorang pekerja bisu yang hidup sederhana bersama putrinya, Rainy (Yang Enyu). Ketika Rainy diculik oleh sindikat perdagangan manusia, Wang Wei berubah menjadi mesin penghancur yang rela melakukan apa saja demi menyelamatkan satu-satunya orang yang paling berarti dalam hidupnya.
Di sisi lain hadir Navin (Joe Taslim), pria yang juga memburu jaringan kriminal yang sama setelah istrinya menghilang saat melakukan investigasi. Pertemuan keduanya menjadi titik awal kolaborasi penuh ledakan yang mengubah perburuan menjadi perang habis-habisan.
Premisnya mungkin terdengar familiar. Namun seperti halnya “The Raid“, kekuatan utama film ini bukan terletak pada kompleksitas cerita, melainkan bagaimana cerita tersebut menjadi bahan bakar bagi rentetan adegan aksi yang terus meningkat intensitasnya.
Panggung Para Petarung Kelas Dunia
Nama-nama yang menghiasi jajaran pemain sudah cukup membuat penggemar film laga bersemangat. Selain Xie Miao dan Joe Taslim, film ini juga menghadirkan Yayan Ruhian, Jeeja Yanin, Brian Le, serta Joey Iwanaga.
Masing-masing karakter memiliki gaya bertarung yang berbeda. Xie Miao tampil dengan presisi dan intensitas wushu yang tajam. Joe Taslim membawa judo dengan perpaduan gerakan yang lebih cair dan agresif, seperti petarung jalanan yang mengandalkan insting serta pengalaman. Sementara Yayan Ruhian kembali menunjukkan karismanya sebagai sosok berbahaya yang sulit dilupakan.
Sebagai Tak, seorang pembunuh bayaran pemanah yang kejam, Yayan sukses mencuri perhatian setiap kali muncul di layar. Kehadirannya membuat babak akhir film terasa semakin liar dan tak terduga.
Namun kejutan terbesar datang dari Brian Le. Dengan postur besar dan kekuatan fisik luar biasa, ia bergerak lincah layaknya atlet profesional. Kombinasi tenaga brutal dan kelincahan yang ia tampilkan menjadikannya salah satu sorotan paling mencolok sepanjang film.

Koreografi yang Membuat Napas Tertahan
Di sinilah “The Furious” benar-benar bersinar.
Tanigaki bersama koreografer aksi Kensuke Nomura merancang pertarungan yang terasa hidup, brutal, dan penuh kreativitas. Setiap adegan tidak hanya berfungsi sebagai aksi semata, tetapi juga memperlihatkan karakter masing-masing petarung.
Film ini memanfaatkan berbagai properti secara cerdas dalam pertarungan. Palu godam, panah, pisau, hingga balok es menjadi bagian dari koreografi yang terus memunculkan kejutan baru. Setiap pertarungan terasa berbeda sehingga penonton tidak pernah merasa bosan.
Yang paling mengesankan adalah bagaimana kamera selalu menjaga kejelasan aksi. Di tengah kekacauan perkelahian kelompok, penonton tetap bisa mengikuti setiap gerakan tanpa kehilangan orientasi. Tidak ada potongan gambar berlebihan yang merusak ritme. Semua terasa mengalir dan terukur.
Suara napas berat, gesekan sepatu di lantai beton, hingga benturan tubuh yang keras membuat setiap pukulan memiliki bobot nyata. Film ini memadukan kung fu klasik dengan MMA modern dan pertarungan jalanan sehingga menghasilkan bahasa aksi yang terasa segar sekaligus realistis.

Ketika Emosi dan Kekerasan Berjalan Beriringan
Meski dipenuhi adegan laga tanpa henti, film ini tetap menyisakan ruang bagi emosi. Amarah Wang Wei terhadap para pelaku perdagangan manusia menjadi motor utama yang membuat penonton terus terhubung dengan perjuangannya.
Setiap pukulan yang ia lepaskan terasa lahir dari keputusasaan seorang ayah yang berusaha merebut kembali anaknya. Itulah yang membuat aksi dalam film ini tidak terasa kosong. Ada motivasi yang jelas di balik setiap benturan dan setiap pengorbanan.
Konflik antara para karakter juga dibangun cukup efektif sehingga penonton memiliki alasan untuk peduli terhadap hasil akhir pertarungan mereka.
Babak Akhir yang Layak Disebut Legendaris
Jika ada satu alasan utama mengapa “The Furious” layak ditonton di layar lebar bersama penonton lain, jawabannya adalah babak klimaksnya.
Pertarungan lima arah yang menjadi puncak film merupakan salah satu adegan aksi paling spektakuler yang muncul tahun ini. Setiap petarung membawa kemampuan dan gaya unik masing-masing, menciptakan kekacauan yang justru terasa sangat terkontrol.
Ketegangan terus meningkat hingga mencapai titik ledak yang sulit ditandingi film laga lain saat ini. Rasanya seperti menyaksikan konser rock versi bela diri, di mana setiap pukulan dan tendangan menjadi bagian dari simfoni penuh energi.
Kesimpulan
“The Furious” adalah bukti bahwa film laga Hong Kong masih memiliki kekuatan untuk mengejutkan dunia. Dengan koreografi luar biasa, jajaran petarung karismatik, aksi yang kreatif, serta intensitas yang terus meningkat dari awal hingga akhir, film ini sukses menjadi salah satu tontonan laga paling memuaskan tahun 2026.
Memang, ceritanya tidak terlalu kompleks. Namun ketika setiap adegan pertarungan disajikan dengan kualitas setinggi ini, kekurangan tersebut tentu tidak menjadi masalah.
Bagi penggemar “The Raid”, film-film Jackie Chan era emas, maupun pecinta sinema aksi yang mengutamakan koreografi nyata dibanding efek komputer berlebihan, “The Furious” adalah tontonan wajib.
Rating: 4,5/5
“The Furious” bukan sekadar film laga. Ini adalah perayaan penuh semangat terhadap seni bela diri di layar lebar—keras, jujur dan tak akan terlupakan.














