Bob Odenkirk kembali masuk ke dunia penuh darah dan kekacauan lewat “Normal“, film aksi thriller terbaru garapan Ben Wheatley yang sukses menghadirkan suasana brutal sekaligus absurd dalam satu tarikan napas. Setelah identik dengan sosok licik namun jenaka di “Better Call Saul” dan aksi brutal di “Nobody“, kali ini Odenkirk tampil sebagai Ulysses Richardson, sheriff pengganti di kota kecil bernama Normal, Minnesota—tempat yang kelihatannya damai, tapi ternyata menyimpan rahasia kelam yang siap meledak kapan saja.

Dari awal, “Normal” memang terasa seperti saudara dekat “Nobody”. Wajar saja, karena naskahnya kembali ditulis Derek Kolstad, sosok di balik trilogi “John Wick“. Namun film ini punya identitas sendiri. Jika John Wick dingin dan nyaris tanpa cela, karakter Odenkirk justru tampil rapuh, kikuk, dan kadang seperti orang biasa yang dipaksa masuk ke neraka penuh peluru. Di situlah daya tariknya. Penonton dibuat percaya bahwa Ulysses hanyalah pria sederhana yang ingin melakukan hal benar—sampai semuanya berubah jadi kekacauan berdarah.

Normal punya cara unik memainkan kontras antara kota kecil yang hangat dengan ledakan kekerasan yang mendadak dan brutal.

Ben Wheatley tampaknya memang sengaja membuat film ini terasa tidak nyaman. Ritmenya lambat di awal, bahkan nyaris membuat penonton lupa kalau ini film aksi. Kota bersalju di Minnesota dipotret begitu cantik dan tenang, lengkap dengan toko rajut, kedai es krim klasik dan wali kota ramah yang diperankan Henry Winkler. Tapi justru di balik nuansa Amerika yang manis itu, Wheatley menyelipkan atmosfer aneh dan mencekam. Ada rasa “tidak beres” yang terus menggantung sepanjang film.

Ketika aksi akhirnya pecah, “Normal” langsung berubah brutal tanpa rem. Adegan baku tembaknya memang tidak se-stylish John Wick, tapi tetap intens dan menghibur. Beberapa pertarungan jarak dekat jadi sorotan tersendiri—kasar, sempit dan terasa menyakitkan. Film ini juga tidak malu tampil berlebihan, lengkap dengan kepala meledak dan tubuh beterbangan yang kadang terasa sengaja dibuat absurd demi menambah sisi komedi gelapnya.

Meski begitu, kekuatan terbesar “Normal” justru ada pada misterinya. Film ini sengaja tidak menjelaskan semuanya secara gamblang. Alurnya suka berbelok tiba-tiba, memancing rasa penasaran sambil membuat penonton sedikit tersesat. Buat sebagian orang, pendekatan seperti ini mungkin terasa membingungkan. Tapi bagi yang menikmati thriller penuh teka-teki dan atmosfer ganjil, “Normal” justru jadi pengalaman yang seru.

Brendan Fletcher sebagai Keith, Bob Odenkirk sebagai Ulysses dan Reena Jolly sebagai Lori dalam film "Normal", yang disutradarai oleh Ben Wheatley - Foto: OPE Partners

Bob Odenkirk sendiri tampil solid sepanjang film. Ia membawa sisi manusiawi yang membuat karakter Ulysses mudah disukai. Ada kelelahan, kepolosan, sekaligus kemarahan yang perlahan meledak di dalam dirinya. Interaksinya dengan warga kota terasa hangat, sehingga saat kekerasan mulai menghancurkan semuanya, penonton ikut merasa kehilangan rasa aman itu.

“Normal” bukan sekadar film aksi penuh peluru, tapi juga potret tentang manusia biasa yang dipaksa menghadapi kekacauan di luar kendalinya.

Pada akhirnya, “Normal” mungkin bukan film paling revolusioner tahun ini, tapi ia tahu persis bagaimana menghibur penonton. Film ini seperti surat cinta untuk thriller aksi era 1990-an: sederhana, liar, penuh ketegangan dan tetap menyenangkan meski kadang terasa cheesy. Buat penggemar Bob Odenkirk, film aksi brutal atau thriller misterius dengan atmosfer dingin yang ganjil, “Normal” jelas layak masuk daftar tontonan.

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist