Kancah musik independen Indonesia kembali mendapat suntikan energi lewat hadirnya Piknik dengan mini album terbaru bertajuk “Astrometri”. Setelah perjalanan panjang sejak akhir dekade 1990-an, band asal Bogor ini kembali membawa semangat bermusik yang jujur, bebas, dan tidak terjebak arus tren sesaat. Dirilis pada 31 Juli 2026 melalui berbagai pelantar musik digital, “Astrometri” menjadi penanda babak baru perjalanan Piknik dalam menemukan arah dan cahaya kreatif mereka.
Perjalanan Piknik sendiri berakar dari geliat musik independen Bogor yang mulai tumbuh sejak awal 90-an. Terbentuk pada 1998 dengan nama awal Lolipop, mereka kemudian terinspirasi oleh gelombang kultur Cool Britannia yang membawa pengaruh musik pop Britania Raya, gaya hidup, hingga fesyen ke berbagai penjuru dunia. Bersama semangat generasi baru kala itu, Piknik hadir membawa warna berbeda di tengah maraknya musik distorsi dan menjadi bagian dari gelombang musik independen yang mulai mendapat perhatian nasional.
Nama Piknik semakin dikenal setelah bergabung dalam kompilasi KLIK! (Kumpulan Lagu Indonesia Terkini!) rilisan WEA (Warner Music Indonesia) bersama Lakuna dan Ungu. Lagu “Sinar” yang menjadi bagian dari kompilasi tersebut bahkan dipilih sebagai tunggalan utama dan berhasil memperkenalkan karakter musik Piknik kepada pendengar lebih luas melalui radio hingga layar televisi.
Namun, perjalanan Piknik tidak berhenti pada sorotan industri. Setelah berpisah dengan Warner, mereka memilih jalur mandiri melalui tunggalan “Tak Bisa Lebih” (2003) dan album mini “Attack!!” (2005). Meski sempat mengalami masa vakum, pergantian personel, hingga aktivitas panggung yang naik turun, semangat bermusik Piknik tetap bertahan. Momen reuni pada 2025 akhirnya menjadi pemantik untuk kembali berkarya.
“Tahun lalu, Dhoni (RooM) ngajak Piknik main di salah satu event mereka. Waktu itu sebenarnya kami sudah lama banget vakum, tapi ada rasa kangen buat manggung lagi,” ujar Adit mengenang awal mula kembalinya Piknik ke panggung.
Kembalinya energi tersebut semakin kuat dengan bergabungnya Dito B. (Cause/A Curious Voynich) dan Firman Aris K. (Eyeliner) sebagai personel baru yang mengisi posisi gitar. Formasi terbaru ini kemudian mulai merancang materi baru yang akhirnya berkembang menjadi album mini “Astrometri”.

“Setelah gue masuk, kita mulai workshop materi baru dan memilah mana saja materi yang akan menjadi cetak biru dari mini album ini,” jelas Dito.
Mengusung nuansa 90s guitar music, “Astrometri” menghadirkan perpaduan elemen shoegaze, indierock, dreampop, hingga psikadelia. Lima lagu di dalamnya menggambarkan perjalanan emosional tentang kegelisahan, keluarga, harapan, serta pencarian arah hidup. Direkam di Bens Studio Bogor, album mini ini menjadi ruang eksplorasi bagi Piknik untuk merangkai atmosfer suara yang khas dan tetap selaras dengan identitas mereka.
Salah satu lagu yang menjadi sorotan adalah “Pusat Berita”, sebuah karya yang menggambarkan derasnya arus informasi, opini dan ekspektasi yang terkadang membuat suara hati manusia semakin sulit terdengar. Lagu ini juga menghadirkan kolaborasi dengan Idam serta sentuhan kibor dari Popo Hanoto.
“Pusat Berita itu lagu terakhir yang dibuat dan kita sepakat untuk dijadiin single di EP ini. Lagunya lumayan tricky, tapi mood-nya oke banget,” ungkap Adit.

Lewat “Astrometri”, Piknik tidak mencoba mengejar formula yang sedang populer. Mereka memilih tetap berjalan dengan karakter sendiri, percaya bahwa karya yang lahir dengan ketulusan akan menemukan pendengarnya dengan cara yang alami.
“’Astrometri’ itu menggambarkan perjalanan mencari arah dan cahaya dalam hidup. Kita selalu percaya bahwa cahaya dalam konteks musik yang dibuat oleh Piknik bakal nemuin jalannya sendiri ke pendengarnya,” tutup Aswin.
Dengan formasi Adit Lesmana (vokal), Aswin Siregar (bas), Adry Radd (drum), Dito B. (gitar) dan Firman Aris K. (gitar), Piknik kembali membuktikan bahwa semangat musik independen bukan sekadar mengikuti zaman, melainkan tentang menjaga keyakinan terhadap suara sendiri. “Astrometri” menjadi bukti bahwa setelah perjalanan panjang, cahaya kreativitas tetap dapat bersinar terang.














