Ada karya-karya yang begitu ikonis hingga terasa mustahil untuk disentuh. Namun bagi bassis sekaligus produser asal London, Jah Wobble, tidak ada yang benar-benar tak bisa diolah kembali selama masih ada ruang untuk bereksperimen. Bersama duo etno-psikedelik Tian Qiyi, mereka menghadirkan tafsir baru atas “Tomorrow Never Knows“, sebuah lagu legendaris milik The Beatles yang kini terdengar jauh lebih liar, meditatif, sekaligus penuh warna.
Lagu tersebut menjadi pembuka perjalanan menuju album kolaborasi mereka, “Mystic Liverpool: The Beatles’ Psychedelic Psongbook“, yang dijadwalkan meluncur pada 14 Agustus 2026 melalui Cherry Red Records dan label milik Jah Wobble, 30 Hertz. Alih-alih sekadar mendaur ulang lagu-lagu klasik, proyek ini justru menjadi bentuk penghormatan yang berani dengan membangun dunia musikal baru dari fondasi era psikedelia The Beatles.
Album tersebut menawarkan interpretasi yang sangat personal sekaligus radikal terhadap fase paling eksperimental dalam perjalanan The Beatles. Setiap lagu dibalut lanskap suara yang memadukan unsur musik tradisional Tiongkok, Mongolia, hingga dentuman dub yang menjadi ciri khas Jah Wobble. Hasilnya bukan nostalgia semata, melainkan pengalaman mendengarkan yang terasa segar dan penuh kejutan.
“Kami ingin membawa semangat eksplorasi The Beatles ke wilayah musikal yang benar-benar baru, tanpa kehilangan roh dari karya aslinya.”

Pilihan membuka proyek ini lewat “Tomorrow Never Knows” bukan tanpa alasan. Lagu penutup dari album “Revolver” yang dirilis pada 1966 tersebut sejak lama dianggap sebagai salah satu tonggak penting lahirnya musik psikedelik modern. Ditulis oleh John Lennon dan Paul McCartney, lagu itu dikenal berkat pendekatan produksinya yang revolusioner dan keberaniannya melampaui pakem musik populer pada masanya.
Kini, Jah Wobble—yang memiliki nama asli John Wardle—bersama kedua putranya, John T Wardle dan Charlie Wardle, yang tampil sebagai Tian Qiyi, berhasil membawa lagu tersebut ke arah yang sama sekali berbeda. Ritme dub yang dalam berpadu dengan instrumen tradisional Asia menciptakan nuansa spiritual sekaligus hipnotis, menjadikan “Tomorrow Never Knows” seolah lahir kembali dengan identitas baru.
Kolaborasi lintas generasi ini juga memperlihatkan bagaimana musik klasik dapat terus berkembang tanpa kehilangan maknanya. Jah Wobble dan Tian Qiyi tidak berusaha meniru The Beatles, melainkan melanjutkan semangat mereka dalam bereksperimen. Filosofi itulah yang terasa begitu kuat sepanjang interpretasi mereka.

Bagi pendengar muda, proyek ini menjadi pengingat bahwa kreativitas tidak mengenal batas usia maupun genre. Warisan musik dapat menjadi titik awal untuk menciptakan sesuatu yang sama sekali baru, selama ada keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman.
Melalui “Mystic Liverpool: The Beatles’ Psychedelic Psongbook”, Jah Wobble dan Tian Qiyi mengajak pendengar menyelami kembali era psikedelia dengan perspektif yang lebih luas, lebih global, dan lebih berani. Jika “Tomorrow Never Knows” menjadi petunjuk awal, album ini berpotensi menjadi salah satu rilisan paling menarik bagi penikmat musik eksperimental tahun ini—membuktikan bahwa masa depan musik selalu dimulai dari keberanian untuk terus bereksplorasi.














