Sepulang dari rangkaian tur di Prancis, termasuk dua penampilan di Festival Les Escales pada 22–25 Juli 2026, Morbid Monke tidak memilih beristirahat. Kuintet art punk asal Bali itu justru langsung melesat dengan gebrakan baru melalui single “Schizophrenic”, sebuah karya yang semakin menegaskan identitas eksperimental mereka. Dengan energi yang liar sekaligus penuh intensitas, Morbid Monke membenturkan repetisi bass yang padat, dentuman drum tribal, pecahan nada abstrak, hingga semburan trompet yang ganjil menjadi lanskap bunyi yang terasa brutal sekaligus memikat.
“Voices echo they scream and they cry – A symphony of madness never goodbye.”
Jika EP “Feel Alive” memperkenalkan sisi personal Morbid Monke terhadap isu kesehatan mental, maka “Schizophrenic” menjadi evolusi yang lebih berani. Lagu ini memadukan karakter post-punk yang muram, psychedelic noise, hingga ritme trance-dance yang mengajak tubuh terus bergerak di tengah kekacauan. Hasilnya adalah komposisi yang tidak sekadar mengajak pendengar menikmati musik, tetapi juga memasuki lorong psikologis yang dipenuhi kegelisahan, paranoia, dan pergulatan batin.
Namun, di balik ledakan energi tersebut, Morbid Monke menyisipkan pesan yang jauh lebih penting. Mereka mengangkat isu skizofrenia sebagai gangguan kesehatan mental yang masih kerap disalahpahami, khususnya karena masih sering dikaitkan dengan hal-hal mistis. Melalui “Schizophrenic”, band ini mengajak pendengar melihat persoalan tersebut dari sudut pandang medis dan kemanusiaan. Lagu ini menjadi pengingat bahwa skizofrenia bukan kutukan, melainkan kondisi kesehatan mental yang membutuhkan pemahaman, dukungan, dan penanganan yang tepat.
“Suffering, fear, defiance, confined.”

Pesan itu terasa semakin kuat ketika Morbid Monke mengajak para penyintas untuk tidak membiarkan kondisi mereka menjadi penentu jati diri. Di tengah pikiran yang rapuh dan kenyataan yang terasa kabur, selalu ada ruang untuk menemukan kekuatan baru. Semangat perlawanan yang menjadi roh punk diterjemahkan bukan sebagai amarah tanpa arah, melainkan keberanian untuk terus bertahan, menerima diri, dan melangkah maju meski jalan yang ditempuh tidak pernah mudah.
“So hold my hand and stand by my side… For in the deep of my fractured mind, I find my strength, I leave the darkness behind.”
Alih-alih meromantisasi penderitaan, “Schizophrenic” justru mengajak pendengar membangun empati terhadap mereka yang hidup dengan gangguan kesehatan mental. Morbid Monke menegaskan bahwa dukungan keluarga dan orang-orang terdekat memiliki peran penting dalam proses pemulihan. Penerimaan diri bukan berarti menyerah, melainkan keberanian untuk hidup berdampingan dengan kondisi yang ada tanpa kehilangan harapan.

Secara musikal, “Schizophrenic” menjadi salah satu karya paling eksplosif Morbid Monke hingga saat ini. Bending chord yang liar, groove yang ganjil, permainan trompet yang impulsif, serta ritme dansa mutan berpadu membentuk pengalaman mendengar yang mentah, gaduh, dan sulit diprediksi. Inilah art punk yang tidak takut terdengar aneh, menabrak pakem, sekaligus mengajak pendengar melepaskan diri dari batas-batas kenyamanan.
Dirilis di seluruh pelantar musik digital pada 31 Juli 2026, “Schizophrenic” menjadi penegasan bahwa Morbid Monke terus bergerak maju sebagai salah satu nama paling berani di skena musik independen Indonesia. Gerby (drum), Deoka (bass), Dewok (trompet), Krisna Dwipayana (gitar) dan Karisma Kele (vokal) kembali membuktikan bahwa semangat punk bukan sekadar tentang memberontak, melainkan keberanian melawan stigma, meruntuhkan prasangka, dan menemukan cahaya di tengah gelapnya pikiran.














