Isu migrasi nyaris tak pernah absen dari linimasa berita dunia. Namun, alih-alih hadir sebagai data statistik atau perdebatan politik yang kaku, film debut Brandt Andersen, “I Was a Stranger“, memilih jalur yang jauh lebih personal: mengajak penonton masuk ke kehidupan orang-orang yang terpaksa meninggalkan rumah demi bertahan hidup. Dipecah ke dalam lima bab cerita, film ini bukan sekadar tontonan, melainkan pengalaman emosional yang terasa dekat dan membekas.
Judul “I Was a Stranger” diambil dari Kitab Matius 25:35, dan menariknya, film ini lahir dari Angel Studios—distributor film berbasis keagamaan yang sebelumnya menuai kontroversi lewat “Sound of Freedom“. Namun kali ini, Andersen justru menghadirkan karya yang terasa jujur, empatik, dan jauh dari agenda propaganda. Sebuah langkah yang terasa seperti “penebusan kecil” sekaligus kejutan yang menyenangkan.
Lima Cerita, Satu Luka yang Sama
Andersen merangkai lima kisah yang saling beririsan, mengingatkan pada film-film ensemble seperti “Crash” atau “Babel“. Semuanya berakar pada tragedi kemanusiaan akibat perang saudara di Suriah dan krisis pengungsi global.
Bab pertama, “The Doctor”, mengikuti Dr. Amira Homsi (Yasmine Al Massri), seorang tenaga medis di Chicago yang dihantui masa lalunya di Aleppo. Lewat kilas balik, penonton diajak menyaksikan rumah sakit yang dibombardir, pelarian penuh bahaya bersama sang putri, hingga perjalanan laut yang mempertaruhkan nyawa dari Turki ke Yunani.
Lalu ada “The Soldier”, tentang Mustafa (Yahya Mahayni), tentara loyal rezim Assad yang perlahan digerogoti krisis nurani saat menyadari kekejaman sistem yang ia bela. “The Smuggler” memperkenalkan Marwan (Omar Sy), sosok kompleks yang di satu sisi adalah ayah penyayang, namun di sisi lain mengambil untung dari keputusasaan para pengungsi. “The Poet” dan “The Captain” melengkapi spektrum cerita—tentang keluarga yang ingin selamat, dan petugas penjaga pantai Yunani yang hidupnya dihantui mereka yang tak berhasil diselamatkan.
Emosi yang Padat, Meski Tak Selalu Mulus
Secara emosional, “I Was a Stranger” nyaris tak memberi ruang bernapas. Andersen dengan telaten menyorot pengorbanan kecil yang terasa sangat manusiawi: seorang anak yang harus meninggalkan anak anjing kesayangannya, seorang ibu yang kehilangan seluruh keluarganya dalam sekejap, hingga rasa bersalah yang menghantui mereka yang “selamat”.
Namun, struktur lima bab ini juga menjadi pedang bermata dua. Perpindahan cerita setiap kurang lebih 25 menit membuat alur terasa patah-patah. Saat penonton mulai terikat secara emosional dengan satu karakter, film justru berpindah fokus. Dampaknya, inti emosional film kerap terasa tercerabut sebelum benar-benar mengendap.
Meski begitu, kekuatan akting para pemain menahan film ini tetap berdiri kokoh. Yasmine Al Massri tampil tenang namun rapuh sebagai Dr. Amira Homsi, sementara Omar Sy memberi lapisan moral yang rumit pada karakter penyelundupnya. Penampilan Constantine Markoulakis sebagai kapten penjaga pantai, meski singkat, meninggalkan kesan mendalam. Sayangnya, beberapa jalur cerita lain terasa lebih datar dan berfungsi sebagai pengisi di antara kisah-kisah yang lebih kuat.
Film yang Tidak Mengemis Simpati
Yang membuat “I Was a Stranger” istimewa adalah caranya meraih empati tanpa memaksakan air mata. Film ini tidak meminta penonton untuk bersimpati—ia membuat simpati itu tumbuh dengan sendirinya. Melalui ritme suntingan yang tajam dan detail-detail sunyi dalam setiap adegan, penonton perlahan berhenti “menonton” dan mulai “merasakan”.
Berbeda dengan “Green Border” karya Agnieszka Holland yang fokus intens pada satu kelompok, Andersen memilih menyebar perspektif. Konsekuensinya, dampak emosional memang sedikit teredam, tetapi sebagai gantinya, penonton diajak melihat krisis migrasi dari berbagai sisi—tanpa menyederhanakan manusia menjadi kubu kiri atau kanan.
Lebih dari Sekadar Film Migrasi
“I Was a Stranger” terasa penting karena menolak mereduksi manusia menjadi label. Ini bukan film debat, bukan pula propaganda. Ini adalah pengingat bahwa di balik setiap tajuk berita, ada individu yang ingin hidup, merasa aman dan diakui keberadaannya.
Pada akhirnya, judul film ini tidak hanya dipahami, tetapi juga dirasakan. Kita diingatkan bahwa, dalam satu atau lain bentuk, hampir semua dari kita pernah menjadi orang asing. Dan lewat film ini, Brandt Andersen berhasil membuat “orang asing” itu terasa sangat dekat—bahkan seperti diri kita sendiri.














