Tak ada ampun, tak ada belas kasihan. Unit death metal kawakan, Prosatanica, resmi mengumumkan perilisan tunggalan terbaru mereka bertajuk “Pharaoh”—sebuah manifestasi kegelapan yang megah sekaligus destruktif. Terinspirasi dari mitologi serta simbol kuasa Mesir kuno, lagu ini merepresentasikan sosok penguasa absolut yang dibalut kultus, dominasi, dan kehancuran. Visual sampulnya pun tak kalah intimidatif: figur Pharaoh bersayap bertengger di atas singgasana, piramida dan kobaran api menjadi latar yang menegaskan atmosfer sakral sekaligus brutal.
Secara musikal, “Pharaoh” tetap mengakar kuat pada brutal death metal khas Prosatanica, namun dengan pendekatan yang terasa lebih masif, modern, dan agresif. Formasi terkini—Bento (vokal), MJ (gitar), Rudy (gitar), Sigit (bas) dan Wahyu (drum)—menghadirkan komposisi yang teknikal sekaligus menghantam tanpa kompromi. “Single ini menjadi penanda fase baru dengan pendekatan musikal yang lebih masif, gelap dan destruktif,” tegas mereka. Growl dalam dan menghancurkan ala Bento Bandito masih menjadi senjata utama, berpadu dengan riff gahar serta dentuman drum yang padat dan cepat.
Terbentuk sejak 1994, Prosatanica adalah salah satu pionir death metal Indonesia yang konsisten menginjeksikan virus ekstrem ke skena bawah tanah. Dari rilisan independen “5 Way Split Manic Trooper Underground Session” (1998), hingga album penuh “Bloody Agressor” (2002) yang mengukuhkan nama mereka, Prosatanica terus bergerilya menyebarkan epidemi brutalitas. Jeda panjang tak menghentikan langkah mereka—album ke-dua “Pisau Bernoda Darah” yang dirilis 14 tahun kemudian menjadi bukti ketahanan, dengan formula mematikan: gitar ekstra gahar bernuansa neo-klasikal, aransemen brutal nan matang, serta produksi yang solid.
Kini, lewat “Pharaoh”, Prosatanica kembali menancapkan taringnya. Mereka berdiri kokoh, siap menebar kehancuran kepada generasi baru penikmat musik ekstrem—tanpa meninggalkan akar kebrutalan yang menjadi identitasnya. “Pharaoh” resmi menginvasi seluruh pelantar musik digital mulai 24 Februari 2026. Bersiaplah, karena takhta telah diduduki—dan dunia bawah tanah kembali bergetar.














