Hantu yang suka muncul tiba-tiba itu memang bisa bikin orang loncat dari kursi. Tapi kalau semua seremnya cuma modal bunyi BRAAAK! plus wajah putih pucat nongol di pojokan, lama-lama penonton jadi bukan takut, tapi kesel. Dan inilah penyakit utama film besutan sutradara Narit Yuvaboon, “Death Whisperer 3“, kelanjutan saga horor asal Thailand yang lagi-lagi memaksa kita untuk sabar menghadapi logika yang bolong-bolong.
Kali ini ceritanya masih soal Yak (Nadech Kugimiya) yang belum juga bisa tenang. Hidupnya nyaris normal setelah tragedi di film sebelumnya, sampai akhirnya adiknya, Yi (Rattawadee Wongthong), diculik makhluk gaib baru yang entah muncul dari mana. Jadilah Yak harus nyemplung ke kampung terkutuk, menghadapi sekte aneh, dan tentunya… dikejar-kejar hantu lagi.
Sebenarnya premis “adik dijadikan tumbal setelah giginya dicabut” terdengar cukup segar. Tapi eksekusinya? Ah, balik lagi ke jebakan lama: jumpscare demi jumpscare yang lebih sering mengandalkan suara ketimbang visual. Alurnya pun bertele-tele, kayak sengaja dipanjangin biar durasi masuk standar layar lebar. Beberapa adegan drama keluarga lumayan menyentuh, tapi sayangnya tenggelam oleh editing yang lambat dan plot hole segede sumur angker.
Untungnya, akting Nadech masih bisa diandalkan. Ia tampil cukup heroik, meski kadang perannya terlalu “super” sampai bikin penonton mikir: “Kalau segampang itu ngelawan hantu, kenapa di film pertama dan kedua ribet banget, bro?” Plus ada detail kecil yang bikin greget, kayak luka tusukan yang hilang-timbul dan adegan kelahiran yang kurang greget.
Singkatnya, “Death Whisperer 3” bukanlah film horor wajib tonton. Tapi kalau kalian kangen sama vibe horor absurd ala 2000-an—yang kadang lebih lucu daripada menakutkan—film ini bisa jadi guilty pleasure. Paling tidak, kamu bisa ikut tepuk tangan kalau ada penonton lain kaget gara-gara suara pintu ditutup keras-keras. Mulai tayang di bioskop Indonesia 1 Oktober 2025.












