“A Working Man” merupakan adaptasi kreatif dari novel “Levon’s Trade” karya Chuck Dixon. Film ini pada dasarnya adalah versi “Taken” karya sutradara David Ayer, yang mengikuti seorang kontraktor bangunan yang menggunakan keterampilan rahasianya saat putri bosnya hilang oleh organisasi kriminal yang berbahaya. “A Working Man” sedikit mengubah buku asli Dixon, akhirnya memberi Statham peran yang sangat mirip dengan peran Liam Neeson di “Taken”. Film ini merupakan kolaborasi ke-dua antara Statham dan Ayer setelah kesuksesan film “The Beekeeper”.
Levon Cade (Jason Statham) meninggalkan profesi lamanya untuk hidup normal. Namun, saat putri temannya menghilang, ia diminta untuk kembali ke keterampilan yang membuatnya menjadi tokoh legendaris di pasukan komando Kerajaan Britania. Levon pun memulai misi penyelamatan yang berubah menjadi perjalanan berbahaya melawan berbagai elemen kriminal, termasuk mafia Rusia dan geng motor.
David Ayer adalah orang di balik film-film seperti “Fury” dan “The Beekeeper“, yang keduanya dengan jelas menunjukkan bakatnya dalam membuat film laga yang dahsyat dan dinamis yang memikat penonton dengan alur cerita yang rumit dan alur cerita yang tidak terduga. “A Working Man” tidak berbeda, dan keterlibatan Statham langsung menunjukkan bahwa Ayer berfokus pada sisi yang lebih gelap dan penuh aksi dari novel aslinya. Statham juga bersatu kembali dengan Sylvester Stallone, yang ikut menulis skenario bersama David Ayer serta memproduseri film ini.

Aksi di fim “A Working Man” benar-benar menegangkan dan memacu adrenalin. Setiap adegan pertarungan dipenuhi dengan intensitas yang kasar dan autentik. Kejar-kejaran mobil dan motor membuat penonton terus terpacu dan tidak bisa berhenti menonton.
Namun, meskipun aksi film ini sangat memuaskan, kisahnya memiliki beberapa kekurangan. Laju alur cerita terasa tidak konsisten, dengan beberapa adegan yang terlalu cepat dan beberapa yang terlalu lambat. Pengenalan tokoh antagonis juga terasa kurang memuaskan, dan subplot mafia Rusia yang dijanjikan tidak terlalu menarik.
Selain itu, beberapa karakter dalam film ini terasa tidak memiliki tujuan yang jelas dan hanya menjadi target bagi aksi Levon. Film ini memprioritaskan aksi daripada kedalaman karakter, yang mungkin akan memuaskan penggemar aksi murni, tetapi tidak akan memuaskan penonton yang lebih kritis.
Meskipun demikian, “A Working Man” memiliki beberapa aspek yang patut diapresiasi. Narasi film ini sangat efisien, dengan plot utama yang dimulai dalam waktu 15 menit. Pendekatan ini menghindari eksposisi yang panjang dan membosankan tentang latar belakang Levon.

Seacara keseluruhan, “A Working Man” adalah film aksi yang solid dan memuaskan, meskipun tidak terlalu kompleks. Film ini menyajikan aksi yang intens, alur yang cepat, dan protagonis yang tangguh. Meskipun tidak akan merevolusi lanskap di genrenya, film ini menyajikan pengalaman hiburan yang menyenangkan.














