David Mackenzie kembali bermain di wilayah yang paling ia kuasai: thriller kriminal penuh tekanan dengan atmosfer dingin dan tensi yang terus naik perlahan. Lewat “Fuze“, sutradara “Hell or High Water” menghadirkan film yang pada permukaan terlihat seperti kisah penjinak bom biasa, tapi diam-diam berubah menjadi permainan tipu-tipu kriminal yang makin liar seiring durasi berjalan. Hasilnya? Sebuah thriller ramping, intens dan cukup cerdas untuk membuat penonton terus menebak-nebak hingga akhir.
Premisnya langsung menghantam tanpa banyak basa-basi. Sebuah bom peninggalan Perang Dunia II ditemukan di lokasi konstruksi di London. Mayor Will Tranter (Aaron Taylor-Johnson), spesialis penjinak bom dari Angkatan Darat Inggris, dipanggil untuk menangani situasi darurat tersebut. Area dievakuasi, tim bergerak cepat, dan suasana langsung terasa mencekam. Namun di balik kekacauan itu, ternyata ada kelompok kriminal yang memanfaatkan situasi untuk membobol brankas bank di sekitar lokasi.
Di sinilah “Fuze” mulai menunjukkan taringnya.
Aaron Taylor-Johnson tampil sangat meyakinkan sebagai sosok pemimpin krisis yang dingin, sigap dan penuh percaya diri. Ia punya aura “orang yang memang harus memegang kendali saat keadaan kacau.” Mulai dari memberi komando pada tim, mengambil alih lokasi, sampai tetap terlihat tenang ketika semua mulai berantakan, Johnson membawa energi bintang film klasik laga yang jarang terasa dipaksakan. Performanya jadi jangkar utama film ini.
“Fuze” doesn’t waste time trying to impress—it locks in and tightens its grip slowly.
Kalimat itu terasa pas menggambarkan bagaimana Mackenzie membangun film ini. Alih-alih mengandalkan ledakan besar atau aksi berlebihan, “Fuze” lebih fokus pada tekanan psikologis dan ritme yang disiplin. Setiap adegan terasa punya tujuan. Setiap percakapan menyimpan kemungkinan baru. Ketegangannya lahir bukan dari kebisingan, melainkan dari rasa tidak nyaman yang terus dipelihara.
Babak pertama film ini bisa dibilang jadi bagian terbaiknya. Mackenzie sukses membuat lokasi konstruksi berlumpur terasa seperti arena thriller paling berbahaya tahun ini. Kamera bergerak tenang tapi penuh ancaman, sementara skor dan tempo editing menjaga jantung penonton tetap berdetak cepat. Saat bom mulai diperiksa dan muncul kecurigaan bahwa bahan peledak itu mungkin bukan relic perang biasa, rasa penasaran makin menggila.
Lalu film berbelok.
Yang awalnya soal menjinakkan bom berubah menjadi investigasi kriminal besar dengan lapisan pengkhianatan ganda dan agenda tersembunyi dari hampir semua karakter. Sam Worthington dan Theo James tampil solid sebagai bagian dari kelompok kriminal yang terus bermain licik satu sama lain. Theo James khususnya kembali menunjukkan karisma ala kriminal stylish yang belakangan makin melekat padanya sejak serial televisi “The Gentlemen“.
Sayangnya, setelah ledakan besar terjadi terlalu cepat di tengah film, “Fuze” sedikit kehilangan senjata utamanya: suspense. Film ini masih seru, twist-nya tetap bermunculan, tapi intensitas awal yang begitu menggigit perlahan mulai melemah. Beberapa flashback di babak akhir juga terasa agak mengganggu alur dan membuat fokus cerita sedikit buyar.
Karakter Chief Superintendent Zuzana yang diperankan Gugu Mbatha-Raw juga kurang mendapat ruang kuat. Bukan karena aktingnya buruk, tapi lebih karena naskah memberinya peran yang terlalu reaktif dibanding menentukan arah cerita.
Meski begitu, “Fuze” tetap berhasil jadi tontonan thriller yang sangat menghibur. Durasi 96 menit terasa efektif tanpa banyak lemak. Mackenzie dan penulis Ben Hopkins tahu kapan harus menekan gas, kapan harus memberi jeda, dan kapan harus melempar twist baru agar penonton tetap terpancing.
“Not here for noise. Here for impact—and it delivers.”
Dan memang itu kekuatan utama “Fuze”. Film ini tidak mencoba jadi thriller bombastis penuh ledakan tanpa isi. Ia memilih jalur lebih sederhana: membangun tekanan, memainkan paranoia, lalu membiarkan kekacauan muncul perlahan. Memang tidak semua pendaratannya mulus, tapi perjalanannya tetap seru untuk diikuti.
Bagi penggemar thriller kriminal bergaya B-Movie yang cerdas, intens dan penuh tikungan liar, “Fuze” jelas layak masuk daftar tonton. Mungkin bukan karya terbaik David Mackenzie, tapi cukup kuat untuk membuktikan bahwa film thriller dewasa dengan laju alur rapi dan tensi matang masih bisa terasa segar di tengah lautan film aksi generik saat ini.
Cinema wins. Mediocrity loses.












