Kalau dengar judul “Anaconda“, yang terbayang pasti film ular raksasa absurd era akhir 90-an dengan cast random tapi ikonik: Jennifer Lopez, Ice Cube dan Jon Voight dengan aksen yang… yah, legendaris karena keanehannya. Film itu jelas bukan film bagus, tapi justru di situlah pesonanya. Dan ajaibnya, versi reboot tahun 2025 ini paham betul soal itu. Disutradarai Tom Gormican (“The Unbearable Weight of Massive Talent“), “Anaconda” terbaru hadir sebagai komedi meta yang santai, sadar diri dan penuh candaan soal budaya remake Hollywood.

Alih-alih sok serius, film ini langsung gas ke mode bercanda. Bayangkan jika “Tropic Thunder” ketemu ular raksasa. Paul Rudd dan Jack Black jadi pusat gravitasi film ini, menyelamatkan cerita dari kehabisan napas. Mereka memerankan sekelompok sahabat lama yang dulu hobi bikin film bareng, lalu reuni untuk nekat me-remake “Anaconda” secara indie di pedalaman Hutan Amazon. Dari sini, film mulai menertawakan segalanya: ego kreatif, ide film daur ulang, sampai obsesi studio besar yang doyan memeras IP lama.

Humor jadi senjata utama. Dialog sarkastik, sindiran ke remake “tanpa ide baru”, sampai momen ketika mereka ketemu kru lain yang juga… lagi bikin remake “Anaconda”. Salah satu karakter bahkan nyeletuk, “I know. No new ideas,” sebelum kru itu lenyap dimakan ular. Kocak, absurd dan lumayan mengena—meski memang sindirannya terasa agak jinak. Mungkin karena, ya, film ini tetap bagian dari sistem yang mereka olok-olok.

Secara cerita, konflik sebenarnya nggak ribet. Ada masalah klasik: kru nggak kompeten, pelatih ular yang mencurigakan (Selton Mello cukup mencuri perhatian), kapten kapal yang nggak sepenuhnya jujur dan tentu saja… ular anakonda beneran yang jauh lebih mematikan. Sayangnya, film sempat “kepedean” dengan nambah lapisan konflik kriminal dan senjata api, yang rasanya nggak perlu. Padahal tanpa itu pun, ancaman ular raksasa dan kegagalan film indie mereka sudah cukup bikin tegang.

Senyawa Paul Rudd dan Jack Black jadi sorotan paling konsisten. Rudd dengan persona pria paruh baya yang lagi krisis arah hidup, sementara Black tampil sebagai versi lebih meledak-ledak dan neurotik—kombinasi yang gampang bikin senyum. Karakter Thandiwe Newton dan Steve Zahn memang agak kurang digali, tetapi dinamika “teman lama bikin film bareng lagi” tetap kerasa hangat. Ada vibe let’s put on a show yang tulus di balik semua kekonyolan ini.

Masalahnya, setelah dua pertiga awal yang menghibur dan penuh tawa, film ini mulai kehabisan bensin. Saat berubah jadi film aksi konvensional dengan kejar-kejaran dan ledakan, pesona meta-komedinya agak luntur. Aksinya terasa ringan dan seperti wahana taman hiburan—rame tapi kurang berbekas. Padahal konsep dan jajaran pemerannya punya potensi buat lebih dari sekadar “oke”.

Jack Black sebagai Doug McCallister bersama Boris, seekor babi hutan, dalam film "Anaconda", yang disutradarai oleh Tom Gormican - Foto: Bradley Patrick © 2025 CTMG, Inc.

Meski begitu, “Anaconda” tetap sukses jadi hiburan yang menyenangkan. Film ini tahu asal-usulnya, memeluk absurditas sumbernya dan tanpa malu menertawakan dirinya sendiri. Ada tawa, ada nostalgia dan ada sedikit hati di tengah kekacauan. Tidak semua lelucon kena, tapi cukup banyak yang bikin betah duduk sampai akhir.

Pada akhirnya, “Anaconda” bukan film yang akan mengubah hidupmu, tapi jelas lebih baik daripada yang seharusnya. Dengan Paul Rudd dan Jack Black di garis depan, meta-komedi monster ini layak ditonton buat kamu yang ingin tertawa sambil melihat Hollywood meledek dirinya sendiri. Skor: 8/10.

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist