Gemerlap musik independen Asia kembali mencuri perhatian lewat penyelenggaraan 17th Golden Indie Music Awards (GIMA) 2026. Digelar pada 31 Oktober 2026 di Taipei Music Center, Taiwan, ajang penghargaan bergengsi ini menjadi panggung apresiasi bagi para musisi yang terus menghadirkan karya orisinal dan eksplorasi kreatif dari berbagai penjuru Asia.
Dua nama besar yang berhasil membawa pulang penghargaan utama adalah Sunset Rollercoaster dan ena mori. Band indie asal Taiwan, Sunset Rollercoaster, sukses meraih kategori Best Album melalui album “Quit Qietly“. Dikenal dengan perpaduan indie rock, soul dan pop retro yang dreamy, pencapaian ini semakin memperkuat reputasi mereka di kancah musik internasional. Sebelumnya, mereka juga menarik perhatian dunia melalui album kolaborasi “AAA” bersama grup indie Korea Selatan, Hyukoh.
Sementara itu, penyanyi, penulis lagu, sekaligus produser berdarah Jepang-Filipina, ena mori, berhasil membawa pulang penghargaan Best Asian Creative Artist berkat EP “Ore“. Musisi yang lahir di Tokyo dan tumbuh besar di Filipina ini dikenal lewat karakter musik eksperimental yang memadukan pengaruh piano klasik dengan pop modern. Album “Don’t Blame The Wild One!” bahkan pernah menempati posisi teratas dalam daftar album Asia terbaik tahun 2022 versi NME Asia. Kiprahnya di berbagai festival internasional, termasuk SXSW dan Summer Sonic Jepang, turut mempertegas daya tariknya di panggung global.

Sorotan lain datang dari musisi jazz Taiwan, Yuhan Su, yang tampil sebagai bintang paling bersinar malam itu dengan memborong tiga penghargaan sekaligus. Proyek musiknya, “Over The Moons“, memenangkan kategori Best Jazz Album, sementara lagu “Genius and Dumb” (天才與笨蛋) meraih Best Jazz Song. Ia juga membawa pulang Jury Award, menjadikannya salah satu sosok paling menonjol dalam perhelatan tahun ini.
Deretan pemenang lainnya turut memperlihatkan betapa beragamnya warna musik independen Asia. Outlet Drift memenangkan kategori Best Band melalui “Masonolay i Cepo’“. Penyanyi Panai membawa pulang dua penghargaan di kategori musik rakyat lewat album “Minsumin” (來了) dan lagu “A Bird Without Feathers” (是誰). Sementara itu, Malpace berhasil meraih Best R&B Album melalui album debut “((No wool. No hump))”.
Tidak hanya menjadi malam pembagian piala, GIMA 2026 juga menghadirkan pertunjukan lintas negara yang sukses mencuri perhatian. Salah satunya adalah ODD WAVES, kolaborasi istimewa antara Wonjin dari kolektif musik alternatif Korea Selatan, Balming Tiger, dengan trio math-rock Taiwan, Elephant Gym. Mereka membawakan sejumlah lagu dari masing-masing repertoar, termasuk “Mirror”, “Midway”, dan “Ice King”, hingga menghadirkan penampilan kolaboratif yang memadukan permainan instrumen kompleks dengan karakter vokal yang khas.

Kemegahan malam penghargaan semakin terasa ketika trio psychedelic rock asal Jepang, Tempalay, mengambil alih panggung sebagai penampil penutup. Beranggotakan Ryoto Ohara, Natsuki Fujimoto, dan AAAMYYY, mereka membawakan “Kaminchi” serta “Sonatine” dengan perpaduan psychedelic rock, tekstur elektronik dan pop eksperimental yang menjadi ciri khasnya.
Panggung GIMA 2026 juga menyuguhkan pertemuan menarik antara tradisi dan eksplorasi musik modern. Penyanyi sekaligus penulis lagu masyarakat adat Paiwan, Sauljaljui, tampil bersama Yuhan Su dan Taiwu Ballads Troupe (TBT), memadukan kekayaan musik tradisional Taiwan dengan sentuhan jazz kontemporer. Sementara itu, peraih Best Live Performance, That’s My Shhh, turut memamerkan energi hip-hop Taiwan melalui penampilan “LIVE A LIFE”.
Lewat deretan pemenang, pertunjukan istimewa, dan kolaborasi lintas budaya, Golden Indie Music Awards ke-17 membuktikan bahwa musik independen Asia semakin berkembang dengan warna dan identitas yang beragam. Bukan sekadar ajang penghargaan, GIMA 2026 menjadi ruang pertemuan bagi para musisi untuk saling bertukar energi, memperluas jejaring kreatif, dan menunjukkan bahwa karya orisinal Asia punya daya ledak untuk bersinar di panggung dunia.














