Filsummer kembali datang dengan sesuatu yang tidak biasa. Lewat single terbaru bertajuk “Wild Goose Chase”, mereka meramu Midwest Emo dengan elemen musik Sunda, lalu membungkusnya dalam kisah emosional tentang keinginan menjadi penyelamat bagi seseorang yang ternyata justru dapat berakhir menjadi sumber luka baru.
Terinspirasi dari nama-nama seperti Murphy Radio, American Football, Owen dan TTNG, “Wild Goose Chase” bergerak lewat permainan instrumen yang dinamis. Riff gitar dengan teknik tapping menjadi salah satu tulang punggung lagu, bersinggungan dengan permainan bass yang funky serta pola drum yang kompleks. Namun, di tengah komposisi yang padat itu, Filsummer justru menghadirkan vokal yang lirih dan intim, menciptakan kontras yang membuat setiap kegelisahannya terasa semakin dekat.
Eksplorasinya tidak berhenti di sana. Suling dan kecapi Sunda turut masuk ke dalam komposisi, membawa warna reflektif yang memberi identitas tersendiri pada “Wild Goose Chase”. Menjelang akhir, lagu ini bahkan berbelok ke bagian bernuansa waltz dengan iringan suling, kecapi, dan permainan drum brush yang lembut. Sebuah perjalanan musikal yang berubah-ubah, tetapi tetap menjaga denyut emosinya.

Di balik kerumitan musikalnya, “Wild Goose Chase” menyoroti fenomena Savior Complex, sebuah kecenderungan ketika seseorang merasa mampu menyembuhkan atau memperbaiki orang lain, padahal dirinya sendiri masih bergulat dengan luka masa lalu. Gagasan tersebut terinspirasi dari meme internet “I Can Fix Her”, tetapi Filsummer membawanya ke ruang yang jauh lebih pahit dan personal.
Alih-alih benar-benar menjadi penyelamat, keinginan untuk “memperbaiki” seseorang justru dapat berubah menjadi campur tangan yang melahirkan luka baru. Rasa bersalah itu terus menghantui sang narator dan bermuara pada pengakuan berulang, “It’s all my fault,” sebuah kalimat yang terdengar seperti pikiran yang terus berputar di kepala ketika segala sesuatu terasa tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Puncak emosinya kemudian tiba dalam kalimat, “I’m sorry you love me.” Sebuah pengakuan yang getir, seolah sang narator akhirnya menyadari bahwa cinta tidak selalu cukup untuk memperbaiki sesuatu. Terlebih ketika seseorang membiarkan orang lain berharap pada sebuah penyembuhan yang bahkan belum berhasil ia temukan untuk dirinya sendiri.

Lewat “Wild Goose Chase”, Filsummer tidak sekadar memadukan Midwest Emo, musik Sunda dan waltz dalam satu ruang. Mereka juga mengubah kegelisahan personal menjadi perjalanan sonik yang lincah, rapuh dan penuh tikungan. Buat kamu yang suka musik dengan gitar berkelindan, ritme tak terduga dan lirik yang siap mengaduk ruang paling sensitif di kepala, “Wild Goose Chase” bisa jadi perjalanan emosional yang layak dikejar—meski pada akhirnya, tidak semua yang dikejar harus benar-benar ditemukan.














