Film remaja Korea Selatan selalu punya cara sederhana untuk membuat hati penonton ikut berdebar. “We, Everyday” hadir sebagai salah satu kisah yang terasa dekat dengan kehidupan banyak orang—tentang persahabatan masa kecil yang perlahan berubah bentuk, tentang cinta pertama yang kikuk, dan tentang kebingungan khas usia tujuh belas tahun. Dibintangi Kim Sae-ron sebagai Han Yeo-Wool dan Lee Chae-min sebagai Oh Ho-su, film ini mengajak penonton kembali ke masa ketika perasaan terasa begitu baru sekaligus membingungkan.
Disutradarai Kim Min-jae dan diadaptasi dari webtoon populer di Kakao Page, “We, Everyday” mengikuti kisah Yeo-Wool, siswi SMA yang mencintai basket dan tumbuh bersama dua sahabatnya, Ho-su dan Joon-yeon (Choi Yu-ju). Persahabatan mereka berubah arah ketika Ho-su tiba-tiba mengungkapkan perasaannya tepat sebelum hari pertama masuk SMA. Yeo-Wool yang terkejut hanya mampu menjawab bahwa Ho-su adalah “teman baik, tidak lebih.” Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi canggung.
Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali di sekolah dan kelas yang sama. Di tengah hubungan yang renggang itu, Yeo-Wool diam-diam menyukai Ho-jae (Ryu Ui-Hyun), pemain terbaik di tim basket putra sekolah. Dari sinilah benih cinta segitiga tumbuh—di lapangan basket, di lorong sekolah, dan di momen-momen kecil yang terasa sangat remaja.
Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada akting Kim Sae-ron. Ia memerankan Yeo-Wool dengan emosi yang terasa alami—rapuh, tetapi juga tegar, seperti remaja yang sedang mencari jati diri. Senyawa antara Kim Sae-ron dan Lee Chae-min juga cukup meyakinkan, meski alur cerita berjalan dengan tempo yang relatif tenang. Dinamika mereka terasa seperti percakapan lama antara dua teman yang tiba-tiba menyadari bahwa perasaan di antara mereka tidak lagi sama.
Yang membuat “We, Everyday“ terasa hangat adalah kesederhanaannya. Tidak ada konflik besar atau drama berlebihan. Dunia para tokohnya dibangun dari hal-hal kecil yang akrab: bermain basket bersama, memasak ramyeon sepulang sekolah, atau saling bercerita tentang masalah keluarga. Justru keseharian inilah yang membuat film terasa dekat—seolah penonton sedang membuka kembali album kenangan masa remaja.
Meski begitu, film ini tidak sepenuhnya mulus. Beberapa adegan terasa tiba-tiba dan kurang berkembang. Salah satunya adalah tindakan Ho-su yang terasa sedikit di luar karakter, serta perubahan sikap Ho-jae yang tidak dijelaskan dengan jelas. Hal-hal kecil ini membuat alurnya sesekali terasa janggal.
Film ini juga memiliki nilai emosional tersendiri karena menjadi karya terakhir Kim Sae-ron sebelum ia meninggal pada Februari 2025. Produksi “We, Everyday” sebenarnya telah selesai sejak 2021, namun baru diumumkan perilisannya pada akhir 2025. Dengan demikian, film ini terasa seperti kapsul waktu yang menyimpan potongan perjalanan karier sang aktris.
Bagi penggemar Lee Chae-min, film ini juga menarik karena memperlihatkan fase awal kariernya sebelum ia melejit lewat drama hit tvN Bon “Appetit, Your Majesty” (2025) dan peran antagonisnya dalam serial Netflix “Cashero“. Melihatnya kembali sebagai remaja canggung di film ini memberi nuansa nostalgia tersendiri.
Dengan cinta segitiga, salah paham yang emosional, serta atmosfer sekolah yang penuh kenangan, “We, Everyday” mungkin tidak menawarkan kisah yang spektakuler. Namun justru dalam kesederhanaannya, film ini terasa jujur—seperti catatan kecil tentang masa ketika perasaan pertama kali belajar tumbuh.
Bagi penonton yang menyukai kisah cinta remaja ala K-movie dan drama sekolah yang hangat, film ini layak masuk daftar tonton. “We, Everyday” telah tayang di Indonesia mulai 11 Maret 2026.












