Kalau ada penghargaan buat sekuel horor yang paling keras kepala—alias tetap jalan meski semua orang bilang “udah, stop aja deh”—mungkin “The Strangers: Chapter 2” pantas banget masuk nominasi. Tahun lalu, Chapter 1 sudah sukses bikin penonton geleng-geleng karena kosong, hambar dan lebih mirip versi fotokopi lusuh dari film aslinya tahun 2008. Eh, bukannya belajar, sekarang sutradara Renny Harlin balik lagi dengan formula sama, cuma ditambah sedikit darah biar kelihatan lebih “niat”.
Kisahnya nyambung langsung dari film pertama: Maya (Madelaine Petsch) masih hidup meski babak belur, pacarnya tewas dan tiga psikopat bertopeng kembali ngejar dia. Intinya? Ini film kejar-kejaran panjang tanpa henti. Dari rumah sakit, ke jalan, terus ke mana-mana, lalu balik lagi ke pola lama: Maya lari, si pembunuh ngejar, ada flashback yang dipaksa masuk, dan… tamat. Oh iya, jangan lupa: ada post-credit yang ngasih bocoran Chapter 3. Karena jelas, kalau satu film gagal, kenapa nggak bikin tiga sekalian, kan?
Yang paling bikin mengernyit adalah usaha film ini kasih “latar belakang” para pembunuh. Jadi, ternyata mereka punya kisah cinta segitiga waktu SD. Serius. Seakan-akan itu bisa menjelaskan kenapa mereka sekarang hobi bunuh-bunuhan sambil pakai topeng menyeramkan. Mau bikin dalem, tapi jatuhnya malah receh.
Tapi ya, jujur aja, film ini nggak sepenuhnya bencana. Madelaine Petsch lumayan lah jadi “final girl” dengan tatapan lelah nan trauma yang konsisten. Ada beberapa adegan aksi yang lumayan bikin deg-degan. Bahkan ada adegan absurd melawan babi hutan—iya, babi hutan—yang saking anehnya malah jadi hiburan tersendiri.
Masalahnya, setelah 90 menit, film ini nggak ninggalin apa-apa selain rasa “oh, udah selesai?” Nggak menakutkan, nggak orisinal, dan jelas terlalu panjang kalau sampai harus dibagi tiga film. Mungkin kalau dipadatkan jadi satu film dua jam, hasilnya bisa lebih nendang. Sekarang? Yang ada cuma gundah—dan itu pun bukan gundah eksistensial, tapi gundah kenapa kita buang waktu nonton.












