Kate Beckinsale balik lagi ke layar lebar lewat “Stolen Girl“, sebuah thriller aksi berbumbu drama keluarga yang diangkat dari kisah nyata. Ceritanya lumayan bikin dada sesak: Maureen (Beckinsale) kehilangan anak perempuannya, Amina (Alejandra Howard), yang diculik sang mantan suami dan dibawa kabur ke Timur Tengah. Demi menjemput sang buah hati, ia bekerja sama dengan Robeson (Scott Eastwood), eks-marinir misterius yang menjadi spesialis urusan penculikan anak. Dari sini, film menjelma jadi roller coaster penuh intrik, baku hantam dan tentu saja, drama air mata seorang ibu.
Masalahnya, eksekusi film ini agak timpang. Bagian awalnya lambat banget—bisa bikin mata hampir merem. Begitu aksinya mulai, sayangnya gaya kameranya blur parah, bikin penonton bingung mana pukulan, mana kursi. Yang agak segar justru penutupnya, nggak klise macam film aksi kebanyakan. Tapi, yah… penggambaran Beirut dan Timur Tengah-nya masih kena “penyakit lama”: filter merah, mobil jadul, pasar seakan stuck di tahun 70-an. Tahun udah 2025, tapi sinema Hollywood masih kejebak stereotip kuno.
Untungnya, Beckinsale bisa menyelamatkan film ini. Aktingnya tulus, emosional, tapi nggak lebay. Arvin Kananian sebagai Karim juga tampil oke, bukan villain ala kartun, tapi lebih ke bapak penuh manipulasi dan klaim “hak” yang bikin konflik makin ribet.
Secara keseluruhan, “Stolen Girl” bukan cuma thriller, tapi juga refleksi tentang lemahnya sistem hukum lintas negara buat kasus penculikan anak. Meski ada beberapa adegan yang bikin gregetan karena teknisnya kurang rapi, film ini tetap berhasil menyodorkan kisah emosional tentang perjuangan ibu yang nggak pernah nyerah. Kalau kamu doyan drama keluarga yang dibalut ketegangan ala film mata-mata, “Stolen Girl” bisa jadi tontonan wajib.














