Dari Surabaya, muncul nama baru di kancah musik independen yang siap mencuri perhatian: Lorra. Kuartet yang digawangi oleh Riki Pradata (gitar), Yosan Lunianto Chaesa Aponno (bass), Yordan Elsson Detise (drum) dan Adha Buyung (vokal) ini resmi meluncurkan debut single mereka berjudul “No Sense”, yang akan dirilis besok, 10 September 2025. Mengusung nuansa melankolis, lagu ini menolak formula cinta ideal ala film layar lebar yang biasanya selalu menawarkan penyembuhan atau kebahagiaan di ujung cerita. Sebaliknya, Lorra memilih untuk membicarakan sisi getir romansa yang kerap kali justru meninggalkan jejak perasaan yang tak mudah hilang.
Secara musikal, “No Sense” dibalut dengan atmosfer dingin nan sendu. Imajinasi pendengarnya dibawa seolah berada di rumah kosong yang ditinggalkan penghuninya, dengan lampu teras yang tetap menyala sebagai simbol harapan. Potongan lirik “I left the porch light on, hoping one day you’d come back home” menjadi inti dari narasi penantian tanpa ujung—sebuah kehilangan yang tak disesali, melainkan diterima dan bahkan dirayakan dalam kesunyian. Lirik yang ditulis oleh Riki ini memotret realita pahit cinta tanpa harus melebih-lebihkan dramanya.
Di balik layar, Lorra bekerja sama dengan musisi sekaligus produser Dwi Pramono, yang ikut menerjemahkan nuansa nelangsa lewat ambience dan ritme yang mendukung karakter lagu. Proses kreatifnya terbilang singkat—hanya satu bulan—namun hasilnya menunjukkan kedewasaan artistik yang matang untuk sebuah band yang baru merilis single perdana. Inspirasi musikal mereka pun beragam, mulai dari lirisisme melankolis Matt Maltese, keberanian eksplorasi orkestrasi ala Radiohead, hingga permainan dinamika emosional khas Manchester Orchestra. Semua itu diolah menjadi sebuah karya yang terasa otentik, sekaligus membuka jalan bagi identitas Lorra di skena musik alternatif tanah air.
Sebagai karya pertama, “No Sense” adalah pernyataan sikap yang jelas: Lorra tidak berminat menjual mimpi romansa ala dongeng, melainkan menghadirkan narasi cinta yang lebih dekat dengan kehidupan nyata—pahit, absurd, bahkan kadang tanpa makna (no sense). Untuk para pendengar yang sedang berkutat dengan penantian, kehilangan, atau luka yang tak kunjung sembuh, lagu ini bisa jadi teman yang jujur sekaligus pelipur dalam sepi.














