Melalui “Tribute to Pestolaer: Nothing Best But Friends”, popaktif.id bersama Lost Wave Record mengajak 12 band lintas generasi untuk menafsirkan kembali karya-karya Pestolaer. Bukan sekadar album penghormatan yang mengajak pendengar bernostalgia, proyek ini justru menjadi ruang pertemuan antara musik yang lahir dari skena bawah tanah era 1990-an dengan generasi musisi yang terus menghidupkan semangat independen hari ini.
Pestolaer dibentuk di Jakarta pada 1992 oleh Taba (vokal), Nyoman (gitar), P.A (bass) dan Boris (drum). Pada masa awal, mereka berada di tengah gelombang punk rock awal skena bawah tanah Jakarta dan sempat membawakan sejumlah lagu Sex Pistols. Namun, Pestolaer tidak berhenti di sana.
Dua tahun kemudian, mereka mengambil langkah berani dengan mengubah arah musikal menuju indie rock dan madchester. Pengaruh The Charlatans dan The Stone Roses ikut memberi warna pada eksplorasi tersebut. Dari punk rock yang mentah dan penuh energi, Pestolaer berkembang menuju wilayah indie rock, Britpop, hingga sentuhan psikedelik.
Perubahan itu menjadi salah satu kekuatan Pestolaer. Mereka tidak terpaku pada satu formula, melainkan terus mencari bentuk baru melalui struktur lagu yang organik, eksplorasi efek gitar, serta semangat do-it-yourself yang sangat lekat dengan kultur musik independen.
Jejak tersebut dapat ditelusuri melalui “Kembali” (1995), “Jang Doeloe” (1997), hingga “Rhythm of Mine” (2013), yang dirilis bersamaan dengan album antologi Birth – School – Indie Rock – Death. Rangkaian karya tersebut menjadi bagian dari arsip perjalanan musik independen Indonesia sekaligus bukti bahwa Pestolaer berada di salah satu titik penting perubahan lanskap musik alternatif Jakarta.
Bersama sejumlah nama seperti rumahsakit, Pure Saturday dan PAS Band, Pestolaer ikut menunjukkan bahwa musik di luar lingkaran label rekaman besar memiliki ruang untuk tumbuh, menemukan pendengar dan membangun komunitasnya sendiri.
Keberanian mereka memasukkan pengaruh indiepop dan Britpop pada pertengahan 1990-an juga turut membuka jalan bagi perkembangan musik indie rock Indonesia pada periode berikutnya. Bahkan ketika sebuah band berganti fase, jejak kreatif para personelnya terus mengalir ke proyek-proyek lain. Angga, misalnya, yang pernah menjadi gitaris Pestolaer, kemudian mendirikan Ramayana Soul dengan pendekatan raga-rock dan psikedelik.
Kini, semangat tersebut mendapatkan napas baru melalui “Nothing Best But Friends”.
Album tribute ini menghadirkan 12 interpretasi berbeda dari 12 band. And Bellyaches membuka daftar melalui “Colours”, disusul Furs dengan “Tribute for You” dan Fuzzya melalui “Istana Pasir”. Gudtings menghadirkan “Oempama”, sementara Kebunku mengambil “Monas” dan Lipgloss menafsirkan “Dermaga”.
Lucy Enigma membawa “Menari Tanpa Gerak”, Shakaboyd mengolah “Lay Down”, The Bunbury menghadirkan “New Decade” dan The Corner of My Room memberikan warna berbeda melalui “Terlalu Melamun”. Sementara itu, The North Palm hadir dengan “Over You” dan The Portray menutup daftar dengan “Pemimpin Cahaya”.
Dua belas lagu tersebut memperlihatkan bahwa karya lama tidak harus diperlakukan seperti benda museum. Setiap band diberi ruang untuk membawa karakter mereka sendiri, sehingga lagu-lagu Pestolaer dapat terdengar kembali dengan perspektif yang berbeda.
Proses produksinya pun mempertahankan semangat mandiri tersebut. Proses pencampuran suara dikerjakan oleh masing-masing band, sedangkan proses mastering dipercayakan kepada Danu Ega Haryanto. Hasilnya adalah sebuah album yang tidak berusaha menghapus jejak masa lalu, tetapi justru mengolahnya menjadi sesuatu yang relevan bagi pendengar hari ini.

Yang menarik, “Nothing Best But Friends” tidak berhenti sebagai rilisan musik. Album ini akan hadir dalam format kaset pada 11 Oktober 2026, bertepatan dengan rangkaian kegiatan hearing session di Psychocandy Records, Kemang, Jakarta Selatan.
Kegiatan tersebut akan mempertemukan sejumlah pelaku musik dan penggiat skena independen untuk mendengarkan serta membicarakan kembali karya-karya Pestolaer. Setelahnya, rangkaian perayaan ini direncanakan berlanjut melalui kegiatan release party.
Semangat yang sama juga dibawa ke ranah visual dan gaya hidup melalui kolaborasi merchandise bersama Gingham Box. Dalam proyek ini, Anggi Faradilla/Mica (Lucy Enigma) terlibat sebagai perancang karya visual dan tata letak album. Kolaborasi tersebut memperluas semesta “Nothing Best But Friends” dari sekadar musik menjadi pertemuan antara suara, visual, fesyen, dan kultur independen.

Pada akhirnya, “Nothing Best But Friends” bukan sekadar usaha untuk mengenang Pestolaer. Album ini adalah cara untuk mempertemukan kembali lagu-lagu lama dengan telinga baru.
Sebab warisan musik tidak selalu harus disimpan dalam lemari arsip. Kadang, ia perlu dikeluarkan kembali, diputar keras-keras, ditafsirkan ulang, lalu diberikan kepada generasi berikutnya.
Dan setelah 35 tahun, Pestolaer membuktikan satu hal: musik yang benar-benar punya nyawa tidak pernah selesai. Ia hanya menunggu untuk ditemukan kembali.














