Paul Feig kembali bermain di wilayah thriller domestik lewat “The Housemaid“, adaptasi novel laris karya Freida McFadden. Film ini menawarkan kisah penuh intrik, rahasia dan relasi kuasa yang dibungkus dalam estetika rumah mewah serba putih khas pinggiran kota Amerika. Hasilnya? Sebuah tontonan yang tegang, kadang menyenangkan, meski sesekali terasa kurang “nakal” untuk ukuran thriller gotik yang seharusnya bisa lebih campy dan liar.
Cerita berpusat pada Millie Calloway (Sydney Sweeney), perempuan muda yang hidupnya sedang di titik nadir. Baru menjalani masa percobaan hukuman, ia butuh pekerjaan tetap agar bisa bertahan. Kesempatan itu datang saat Nina Winchester (Amanda Seyfried), ibu rumah tangga berwajah ramah dengan senyum yang terlalu sempurna, menawarkan pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus asisten rumah tangga di rumah besarnya di Long Island. Awalnya tampak seperti dongeng Cinderella modern—hingga pagi pertama bekerja berubah jadi mimpi buruk. Nina mudah meledak, memainkan manipulasi psikologis, sementara sang suami, Andrew (Brandon Sklenar), menunjukkan ketertarikan yang bikin situasi makin panas dan tidak nyaman.
Feig cukup piawai memainkan twist demi twist dengan tempo cepat, meski tidak semuanya benar-benar mengejutkan. Beberapa kejutan terasa terlalu “tertebak”, tapi naskah Rebecca Sonnenshine patut diapresiasi karena konsisten menyorot jurang kelas sosial antara majikan dan pekerja, serta bagaimana kekayaan bisa membungkus kekerasan emosional dengan tampilan elegan. Paruh awal film cenderung serius seperti drama psikologis, namun menjelang akhir, nadanya bergeser jadi lebih fun dan mendekati gaya “A Simple Favor“, karya Feig sebelumnya. Perubahan ini terasa menyegarkan, sekaligus bikin penonton bertanya-tanya: “Andai dari awal film ini seberani itu.”
Soal akting, Amanda Seyfried jelas jadi pusat gravitasi. Ia memainkan Nina dengan energi nyaris horor—senyum manis, tangisan dramatis, hingga tatapan kosong penuh amarah—semuanya dieksekusi dengan presisi yang mencuri perhatian. Sydney Sweeney memang terlihat lebih kalem di awal, bahkan nyaris seperti “menahan diri”, tapi di babak klimaks ia akhirnya benar-benar meledak dan menunjukkan mengapa ia sedang berada di puncak kariernya. Duel psikologis dua aktris ini adalah nyawa film.
Secara visual, “The Housemaid” tampil rapi dan menggoda: tangga spiral, kamar loteng yang mencurigakan, luka-luka brutal, hingga adegan seks yang tidak malu-malu. Skor musik garapan Theodore Shapiro diperkaya pilihan lagu pop yang ironis—dari Kelly Clarkson sampai Linda Ronstadt—yang justru mempertegas ketegangan dan absurditas situasi. Ada sentuhan satir sosial dan pesan feminis yang cukup gamblang: tentang perempuan, kendali dan peran yang dipaksakan pada mereka.
Pada akhirnya, “The Housemaid” adalah thriller gotik suburban yang solid, meski sedikit kepanjangan dan tidak selalu seberani potensinya. Namun berkat senyawa Sweeney dan Seyfried, serta keberanian Feig menjejak wilayah yang lebih gelap dan sensual, film ini tetap memikat dari menit pertama hingga akhir. Tegang, kadang kocak, kadang bikin bergidik—”The Housemaid” pantas masuk daftar tontonan seru tahun ini. Skor: 8/10.














