Ada yang bilang, kematian seharusnya menutup cerita. Tapi rupanya tidak bagi The Grabber. Dari balik liang dan bayang, ia kembali mengangkat gagang telepon yang semestinya sudah diam. “Black Phone 2“, sekuel dari film horor hit garapan Scott Derrickson tahun 2022, menolak untuk sekadar menjadi kelanjutan — film ini hidup di antara trauma, arwah dan dinginnya musim salju yang seperti menyimpan dendam.
Kisahnya masih mengikuti kakak-beradik Finney (Mason Thames) dan Gwen (Madeleine McGraw) yang dulu berhasil mengakhiri teror sang penculik bertopeng. Namun kini, teror datang dalam bentuk lain: panggilan dari dunia yang seharusnya sunyi. Gwen, yang mewarisi kemampuan supranatural dari ibunya, mulai diteror oleh mimpi dan penglihatan tentang anak-anak korban The Grabber yang tampak “beristirahat” di bawah danau beku di sebuah perkemahan terpencil bernama Alpine Lake. Bersama Finney dan kekasihnya, ia menelusuri misteri itu—dan menemukan bahwa tak semua arwah ingin beristirahat dengan tenang.
Derrickson, yang kembali duduk di kursi sutradara dan menulis naskah bersama C. Robert Cargill, membangun suasana dengan sabar. Bukan jenis horor yang menjerit-jerit di telinga, tapi yang merayap pelan di punggung—dingin, sunyi, dan tak mau pergi. Citra film bergaya tahun 1980-an, dengan butiran gambar yang kasar dan pencahayaan pucat, menambah kesan nostalgia yang justru membuat ketakutan terasa lebih nyata. Denting telepon di tengah salju yang membeku pun jadi seperti bisikan dari masa lalu yang belum selesai.
Menariknya, “Black Phone 2” tak sekadar menakut-nakuti. Ia bicara tentang luka yang diwariskan: bagaimana kekerasan, kehilangan, dan rasa bersalah bisa hidup terus, bahkan setelah pelaku tiada. “Mimpi kadang bukan sekadar pesan dari arwah,” ujar Gwen dalam satu adegan, “tapi cara mereka menuntut kita untuk mendengar.” Dan di situlah kekuatan film ini—bukan hanya pada sosok hantu bertopeng, tapi pada rasa gentar yang lahir dari sesuatu yang lebih halus: kenangan yang tak mau mati.
Dengan segala atmosfer kelam dan pesan emosional yang menyelinap di balik darah dan salju, “Black Phone 2” mungkin tidak serapuh film pertamanya, tapi justru lebih berani dalam menyingkap luka lama. Bukan sekadar sekuel, melainkan panggilan ke-dua dari masa lalu yang tak pernah benar-benar menutup sambungan. Jadi, jika suatu malam telepon di kamar berdering tanpa sebab, barangkali itu bukan kesalahan jaringan—barangkali itu panggilan untukmu. Kamu siap?














