Bagaimana kalau dongeng horor yang dulu diceritakan nenek ternyata benar-benar ada?
Pertanyaan itu jadi pintu masuk Forgotten Island, animasi terbaru DreamWorks garapan Joel Crawford dan Januel Mercado, yang sebelumnya terlibat dalam Puss in Boots: The Last Wish. Bedanya, kali ini mereka membawa cerita original yang mengambil inspirasi dari legenda rakyat Filipina, lalu mencampurnya dengan petualangan, komedi absurd, dan nostalgia 90-an.
Cerita berpusat pada Jo dan Raissa, dua sahabat sejak sekolah dasar yang mulai berhadapan dengan pilihan hidup masing-masing. Jo adalah gadis tomboi pembuat onar yang gemar menceritakan dongeng horor dari neneknya, Lola Fatima. Sementara Raissa adalah murid teladan yang bercita-cita menjadi ilmuwan di Amerika Serikat.
Ketika Raissa bersiap pergi dan Jo justru terjebak bekerja di kedai makanan cepat saji, sebuah kejadian aneh membawa mereka ke Nakali—pulau mistis yang selama ini hanya ada dalam cerita sang nenek.
Masalahnya, mereka bangun tanpa ingatan tentang 12 jam terakhir. Bahkan tubuh mereka berubah. Raissa tiba-tiba punya sayap kelelawar raksasa dan sebagian rambutnya hilang. Dari sinilah petualangan mencari jalan pulang sekaligus mencari kembali identitas mereka dimulai.
Dunia Fantasi yang Nggak Takut Aneh
Daya tarik terbesar Forgotten Island ada pada cara film ini memainkan mitologi Filipina.
Ada Raww, manusia anjing yang sok tahu tapi nggak bisa dipercaya. Bungi, bayi iblis raksasa yang justru manja dan gampang menangis. Ada juga Pangeran Mermahn, pangeran duyung dengan gaya bak bintang panggung kelab malam.
Lalu ada Manang, penyihir vampir yang bisa membelah tubuhnya menjadi dua. Kehadirannya memberi sentuhan horor yang cukup pekat untuk ukuran animasi keluarga.
Kontras antara humor absurd dan monster yang cukup menyeramkan membuat dunia film ini terasa hidup. Nggak semuanya harus lucu, tapi hampir semuanya terasa punya karakter.
Visual Penuh Warna, Cerita Cukup Padat
Visualnya juga menjadi salah satu kekuatan film. Perkampungan pesisir Filipina hingga pulau fantastis Nakali dibuat dengan detail, sementara elemen era 90-an seperti kaset, aksesori neon, dan kacamata jadul memberikan sentuhan nostalgia yang nggak berlebihan.
Namun, film ini juga cukup ramai.
Banyak karakter dan konflik dimasukkan dalam satu perjalanan sehingga ritmenya terasa cepat. Kadang kita belum selesai mencerna satu kejadian, film sudah membawa kita ke masalah berikutnya.
Untungnya, hubungan Jo dan Raissa tetap menjadi pusat cerita. Di balik semua monster dan portal, Forgotten Island sebenarnya sedang membicarakan dua sahabat yang mulai menyadari bahwa tumbuh dewasa berarti menghadapi kemungkinan untuk berjalan ke arah yang berbeda.
Dan bagian itu justru terasa paling dekat.
Bukan Cuma Soal Monster
Forgotten Island berhasil mengubah legenda rakyat Filipina menjadi petualangan animasi yang liar, lucu, colorful, dan sesekali creepy.
Memang ceritanya padat dan beberapa monster mungkin terlalu menyeramkan untuk anak-anak yang masih kecil. Tapi buat kamu yang suka animasi dengan dunia fantasi yang nggak biasa, film ini punya cukup banyak hal untuk dinikmati.
Pada akhirnya, di balik semua portal dan makhluk aneh, Forgotten Island cuma ingin mengingatkan satu hal sederhana: kadang yang paling sulit dari tumbuh dewasa bukan menemukan jalan pulang, tapi menerima bahwa orang yang tumbuh bersama kita mungkin sedang memilih jalan yang berbeda.
Nilai: 8,5/10














