Dua puluh lima tahun setelah “Shaolin Soccer” membuat sepak bola dan kung fu terasa seperti pasangan paling absurd sekaligus menghibur, Stephen Chow kembali dengan “Kung Fu Soccer” (2026). Kali ini, sorotan tidak lagi berpusat pada para jagoan pria, melainkan tim sepak bola perempuan Emei yang siap membuktikan bahwa perempuan bukan sekadar pemanis tribun—mereka juga bisa menjadi penguasa lapangan!
Dipimpin kapten Shuangshuang (Zhang Xiaofei), striker andalan Yulong (Dilraba Dilmurat), serta mentor Xu Feng (Lay Zhang), Tim Emei datang sebagai kesebelasan yang diremehkan sejak awal. Mereka kemudian mengikuti turnamen bergengsi Supreme Invincible Cup dengan satu misi: membungkam keraguan dan mengejar gelar juara. Modal mereka bukan cuma kemampuan mengolah si kulit bundar, tetapi juga jurus-jurus kung fu yang membuat pertandingan berubah menjadi tontonan penuh kejutan.
Seperti sudah menjadi ciri khas Stephen Chow, logika boleh saja ditinggalkan di luar stadion. “Kung Fu Soccer” justru bersenang-senang dengan kekonyolan, aksi berlebihan, lelucon visual, serta rangkaian kejadian yang semakin absurd dari satu adegan ke adegan berikutnya. Satu lelucon selesai, lelucon berikutnya datang lebih gila, lalu tiba-tiba cerita membelok ke arah yang sama sekali tidak terduga. Inilah wilayah mo lei tau—humor khas Stephen Chow yang tidak selalu masuk akal, tetapi justru di situlah letak keseruannya.
Bagi penonton yang menginginkan cerita serius dan penuh makna seperti drama olahraga yang realistis, film ini mungkin terasa terlalu ngawur. Namun, memang bukan itu tiket masuk ke dunia Stephen Chow. “Kung Fu Soccer” adalah komedi, dan dalam komedi, absurditas bukan kesalahan—melainkan senjata utama. Stephen Chow seolah membuka kembali buku catatan berisi lelucon yang telah dikumpulkannya selama puluhan tahun, kemudian membuang semuanya ke dalam satu pertandingan sepak bola.
Yang membuat film ini terasa lebih segar adalah dominasi karakter perempuannya. Zhang Xiaofei dan Dilraba Dilmurat menjadi kombinasi yang menyenangkan, terutama karena keduanya mampu menghadirkan karakter atletis yang tangguh tanpa kehilangan sisi komedi. Tim Emei pun tidak dibuat sebagai sekumpulan karakter tempelan. Masing-masing mendapat ruang untuk bersinar, sementara tim lawan juga memiliki kepribadian yang membuat setiap pertandingan terasa hidup.
Di sinilah semangat feminisme film bekerja dengan cara yang cukup menyenangkan. Perempuan tidak ditempatkan sebagai karakter yang harus menunggu diselamatkan atau sekadar menjadi pendamping sang pahlawan. Mereka berlari, bertanding, mengambil keputusan, menghadapi tekanan, dan tentu saja menghajar stereotip dengan cara paling Stephen Chow: melalui sepak bola dan kung fu! Kalau ada yang masih menganggap perempuan tidak cocok berada di lapangan, mungkin sebaiknya menonton sampai peluit akhir sebelum berkomentar.
Dari sisi visual, “Kung Fu Soccer” juga tampil lebih ambisius. Koreografi pertarungan, rangkaian pertandingan sepak bola, efek visual, sinematografi, hingga permainan kamera terasa mengalami peningkatan dibandingkan “Shaolin Soccer”. Ada beberapa adegan aksi yang begitu berlebihan sampai terasa seperti pertandingan sepak bola sedang mengalami mutasi menjadi film laga. Namun, semuanya tetap dikemas dengan ritme komedi yang membuat aksi tersebut terasa menghibur, bukan sekadar pamer teknologi.
Meski begitu, film ini bukan tanpa kekurangan. Salah satu hal yang mungkin membuat penggemar lama membandingkannya dengan “Shaolin Soccer” atau “Kung Fu Hustle” adalah kekuatan emosionalnya. “Kung Fu Soccer” memiliki momen-momen menyentuh, tetapi tidak selalu mencapai kedalaman emosi seperti dua film tersebut. Komedi dan aksinya jauh lebih dominan sehingga perjalanan emosional para karakternya terkadang terasa tidak sedalam yang diharapkan.
Namun, apakah itu membuat film ini gagal? Jelas tidak. “Kung Fu Soccer” memang bukan karya terbaik Stephen Chow dan belum tentu mampu menandingi pesona “Shaolin Soccer” maupun “Kung Fu Hustle”. Tetapi film ini berhasil melakukan sesuatu yang jauh lebih penting: mengingatkan penonton mengapa gaya Stephen Chow begitu dicintai.
Film ini adalah nostalgia yang diberi energi baru. Ada humor absurd, aksi kelewat batas, permainan visual, sepak bola yang tidak masuk akal, karakter-karakter perempuan yang kuat, serta hati yang masih terasa di balik segala kegilaannya. “Kung Fu Soccer” seperti surat cinta kepada para penggemar yang sudah lama menunggu Stephen Chow kembali bermain-main dengan dunia komedi absurdnya.
Jadi, apakah sepak bola perempuan akhirnya mendapatkan tendangan kung fu yang layak? Jawabannya: iya, dan tendangannya cukup keras untuk membuat stereotip ikut terjungkal! “Kung Fu Soccer” mungkin bukan mahakarya baru Stephen Chow, tetapi jelas merupakan comeback yang menyenangkan dan penuh warna. Sebuah film yang mengajak kita tertawa, bersorak, sekaligus menikmati ketika para perempuan mengambil alih lapangan dan berkata: kali ini, bola ada di kaki kami!














