Film drama keluarga “Dear You” karya sutradara Lan Hongchun hadir seperti surat lama yang perlahan dibuka kembali: sederhana, hangat, lucu, tetapi menyimpan kepedihan yang semakin terasa ketika kisahnya berjalan. Dengan bujet produksi yang relatif kecil dan mayoritas pemain pendatang baru, film berbahasa Teochew ini justru berhasil mencuri perhatian besar di Tiongkok hingga meraup lebih dari 1,7 miliar yuan di box office. Di balik pencapaiannya, “Dear You” menawarkan kisah tentang keluarga, migrasi, kesetiaan dan cinta yang mampu bertahan melampaui jarak serta waktu.
Cerita bermula dari Hiou-ui (Zheng Runqi), cucu Sogriu (Wu Shaoqing), seorang perempuan berusia 80 tahun yang menjalani masa tua dengan tenang. Terbelit utang dan terus dikejar penagih, Hiou-ui pergi ke Thailand untuk mencari sang kakek, Den Bhagseng (Wang Yantong), yang selama ini diyakini sebagai pengusaha kaya raya. Namun, pencariannya justru membuka rahasia besar: Bhagseng ternyata telah lama meninggal dunia, sementara sosok yang selama bertahun-tahun berkirim surat penuh kasih dengan Shurou ternyata bukan orang yang selama ini ia bayangkan.
Lan Hongchun sengaja mengawali film dengan suasana komedi. Percakapan keluarga yang ceplas-ceplos dan berbagai kesalahpahaman membuat “Dear You” terasa ringan sebelum perlahan mengajak penonton masuk ke wilayah emosional yang jauh lebih dalam. Ketika Hiou-ui mulai mengungkap masa lalu Bhagseng, rasa penasaran penonton pun ikut tumbuh. Kita bukan hanya ingin mengetahui siapa sebenarnya lelaki tersebut, tetapi juga ingin memahami bagaimana sebuah rahasia dapat mengubah cara sebuah keluarga memandang masa lalunya.
Sebagian besar kisah kemudian membawa penonton menuju kawasan Pecinan Bangkok pada 1955. Di sinilah budaya Teochew menjadi napas penting film. Penggunaan bahasa Teochew terasa bukan sekadar pilihan artistik, melainkan penghormatan terhadap identitas masyarakat perantauan yang membangun kehidupan baru di tanah asing. Film juga memperkenalkan qiaopi, surat kiriman para perantau yang biasanya berisi uang sekaligus kabar untuk keluarga di kampung halaman. Dalam era ketika pesan dapat dikirim hanya dengan beberapa sentuhan layar, surat tulisan tangan terasa begitu personal dan menyentuh.
Qiaopi menjadi jantung emosional “Dear You”. Bagi Bhagseng, surat tersebut adalah cara untuk tetap terhubung dengan Sogriu dan anak-anaknya setelah meninggalkan Tiongkok. Namun, surat-surat itu juga menjadi simbol betapa rapuhnya hubungan keluarga ketika dipisahkan oleh sejarah, keadaan, dan pilihan hidup. Film ini dengan lembut mengingatkan bahwa terkadang seseorang tidak benar-benar pergi dari kehidupan kita; ia tetap tinggal melalui kata-kata yang pernah ditinggalkan.
Salah satu karakter yang mencuri perhatian adalah Zia Lamgi (Li Sitong), perempuan muda keturunan Tionghoa-Thailand yang menjalankan penginapan keluarganya sekaligus merawat sang ayah. Nanzhi digambarkan sebagai sosok keras kepala, mandiri, dan teguh pada pilihannya. Pertemuannya dengan Bhagseng membuka sisi lain dari dirinya, terutama ketika ia membantu menulis qiaopi. Menariknya, film tidak memaksakan hubungan romantis di antara mereka. Sebaliknya, hubungan tersebut berkembang sebagai persahabatan dan pertemuan dua manusia yang sama-sama memahami arti kehilangan, tanggung jawab, serta kesetiaan.

Penampilan para pemain menjadi salah satu kekuatan terbesar film. Li Sitong memberikan performa yang sangat berkesan sebagai Lamgi, sementara Wu Shaoqing menghadirkan Sogriu sebagai sosok nenek yang tampak tegas dan penuh energi, tetapi menyimpan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Kehadiran Usha Seamkhum, yang dikenal lewat “How to Make Millions Before Grandma Dies“, juga memberikan sentuhan emosional dalam sejumlah adegan penting. Menariknya, mayoritas pemain bukan aktor profesional, tetapi justru terasa natural dan tidak dibuat-buat.
Di balik cerita tentang migrasi masyarakat Tionghoa ke Asia Tenggara, “Dear You” sebenarnya sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih universal: bagaimana manusia berusaha mempertahankan hubungan ketika hidup memaksa mereka berpisah. Film ini tidak terus-menerus mengajak penonton menangis. Ada humor, kehangatan keluarga, persahabatan, bahkan momen-momen kecil yang terasa akrab. Keseimbangan inilah yang membuat emosinya terasa manusiawi, bukan melodramatis secara berlebihan.

“Dear You” pada akhirnya bukan sekadar film tentang sebuah rahasia keluarga. Ia adalah surat cinta untuk mereka yang terus bertahan, meski kehidupan tidak selalu memberikan jawaban yang diharapkan. Film ini mungkin berangkat dari kisah masyarakat Teochew dan sejarah perantauan Tionghoa di Asia Tenggara, tetapi perasaan yang dibawanya bisa terasa dekat bagi siapa saja yang pernah kehilangan, menunggu, atau mencoba memahami pilihan orang-orang yang mereka cintai.
Dengan pendekatan sederhana, permainan emosi yang matang, serta kekuatan budaya yang begitu kental, “Dear You” menjadi drama keluarga yang pelan-pelan menetap di hati. Seperti surat yang baru selesai dibaca, kisahnya mungkin telah berakhir ketika lampu bioskop menyala, tetapi perasaan yang ditinggalkannya masih terus bergaung. Kadang, cinta memang tidak hadir dalam bentuk kebersamaan. Ia bisa hidup dalam sebuah surat, sebuah kenangan, atau keteguhan seseorang untuk tetap melanjutkan hidup.














