Di tangan sutradara David Lowery, “Mother Mary” hadir bukan sekadar film tentang pop star yang jatuh dan ingin bangkit, melainkan sebuah ritual sinematik yang mengajak penonton menyelami ruang antara yang fana dan yang ilahi. Anne Hathaway memerankan Mother Mary—diva pop yang pernah berada di puncak, kini tersesat dalam bayang-bayang masa lalu dan krisis identitas yang tak kunjung usai. Ketika ia menyebut lagunya sebagai tentang “transubstansi perasaan ala Einstein,” film ini langsung memberi sinyal: ini bukan tontonan pop biasa, melainkan lanskap metafora yang pekat dan kadang melelahkan.
Kisahnya bergerak intim, nyaris teatrikal, saat Mary mendatangi Sam Anselm (Michaela Coel), desainer jenius yang juga mantan sahabat—dan mungkin lebih dari itu. Dalam waktu tiga hari menjelang comeback besar, mereka terjebak dalam ruang penuh luka lama, ego dan kerinduan yang tak pernah benar-benar selesai. Relasi keduanya menjadi jantung film: kompleks, rapuh, sekaligus penuh daya magis. Coel tampil mencuri perhatian dengan aura misterius yang berlapis, sementara Hathaway menghadirkan sosok Mary yang hampa namun tetap menyala di bawah sorot panggung—sebuah kontras yang terasa getir.
Secara visual, “Mother Mary” memanjakan sekaligus menantang. Permainan warna hitam pekat, merah bergelombang, dan cahaya putih yang sakral membentuk atmosfer yang nyaris seperti mimpi buruk yang indah. Musik garapan Jack Antonoff, Charli XCX dan FKA twigs memberi denyut emosional, meski tak selalu mampu menyelamatkan ritme film yang cenderung lambat dan sarat simbol. Ada nuansa folklor dan horor psikologis yang mengendap, diperkuat dengan elemen supranatural yang tak pernah dijelaskan sepenuhnya—membiarkan penonton menafsirkan sendiri.
Namun, di balik segala keindahan artistiknya, film ini juga terasa kurang membumi. Absennya eksplorasi mendalam terhadap masa lalu Mary dan Sam membuat ikatan emosional mereka kadang terasa menggantung. Naskahnya pun kerap terlalu verbal, dipenuhi metafora yang, seperti diakui Mary sendiri, “melelahkan.” Tapi justru di situlah daya tariknya: “Mother Mary” bukan untuk semua orang, melainkan untuk mereka yang siap larut dalam pengalaman sinematik yang ganjil, gelap dan penuh tafsir.
Pada akhirnya, “Mother Mary” terasa seperti mimpi yang tertinggal setelah bangun—tak sepenuhnya dipahami, tapi membekas. Sebuah doa sunyi tentang kreativitas, luka dan hasrat untuk ditebus, yang bergaung di antara gemerlap panggung dan kehampaan jiwa.














