Ada hal-hal dalam hidup yang bekerja diam-diam—tak kasatmata, tapi terasa nyata. Ia hidup dalam cara kita berpikir, bereaksi, hingga bertahan. Tidak selalu lahir dari pengalaman personal semata, melainkan dari sesuatu yang diwariskan lintas generasi. Dari ruang yang seharusnya paling aman—keluarga—luka itu bisa tumbuh, mengendap, dan tanpa sadar membentuk siapa kita hari ini. Isu inilah yang diolah dengan jujur oleh Dipha Barus dan Hindia dalam rilisan terbaru mereka, “Nafas”.
Berangkat dari ide musikal yang repetitif dan intuitif khas Dipha Barus, “Nafas” berkembang menjadi refleksi tentang keseharian manusia yang terus berjalan di tengah beban pikiran yang tak pernah benar-benar hilang. Demo awal lagu ini kemudian sampai ke tangan Baskara Putra (Hindia), yang langsung menangkap energi berulang tersebut sebagai sebuah ritme hidup. “Waktu pertama kali dengar demonya, yang terlintas justru rasa repetitifnya, seperti cadence berlari, seperti jogging atau maraton. Dari situ jadi terpikir untuk menulis sesuatu yang juga berulang, tentang keseharian, tentang siklus yang terus terjadi,” ujarnya. Dari sana, lahirlah lirik yang sederhana namun menghantam, menghadirkan hook kuat tanpa terasa menggurui.
Bagi Baskara, “Nafas” adalah potret jujur tentang perjuangan sehari-hari—hal-hal kecil yang mungkin terlihat sepele, tapi diam-diam menggerogoti. “Kalau harus describe ‘Nafas’ dalam satu kalimat, itu lagu tentang daily struggle saja sebenarnya… Struggle, tapi tetap lanjut,” katanya. Namun di balik itu, ada lapisan yang jauh lebih personal: upaya untuk memahami dan memutus rantai luka yang diwariskan. Ia menyinggung kesadaran bahwa pola-pola dalam dirinya bisa jadi merupakan refleksi dari generasi sebelumnya. “Itu hanya bisa berhenti kalau saya mengakui hal tersebut dan tidak menyimpan dendam,” tambahnya, membuka ruang refleksi yang dalam namun tetap membumi.
Dipha Barus sendiri mengakui bahwa tema generational trauma dalam “Nafas” hadir secara organik, bukan sesuatu yang dirancang sejak awal. Pengalaman pribadinya sebagai seorang ayah membawanya pada kesadaran baru tentang pola-pola emosional yang ia warisi. “Gue tumbuh di era di mana diam adalah bentuk bertahan hidup… dan warisan itu bukan cuma politik, tapi emosional,” ungkapnya. Ia juga menyadari bahwa banyak luka yang terasa personal sejatinya memiliki akar yang lebih luas. “Yang kita kira luka pribadi, sebenarnya luka kolektif yang diindividualisasi.”
Menariknya, “Nafas” tidak terjebak dalam nuansa gelap semata. Dipha justru membangun kontras antara gerak dan refleksi—sebuah pendekatan yang terasa hidup dan jujur. Ia terinspirasi dari pengalaman berlari sebagai medium kontemplasi. “Tubuh bergerak maju, tapi justru kontemplasi. ‘Nafas’ sebenarnya mimik proses itu,” jelasnya. Lanskap produksi yang dinamis pun tetap memberi ruang bagi vokal Baskara untuk menjadi pusat gravitasi lagu ini—intim, personal, dan terasa seperti sedang bercerita langsung ke pendengar.
Pada akhirnya, “Nafas” bukan sekadar lagu tentang kegelisahan, melainkan ruang untuk mengakui bahwa proses memahami diri tidak pernah benar-benar selesai. “‘Nafas’ adalah titik di mana gue berhenti nge-rem diri sendiri soal ini… diam bukan pilihan lagi,” tutup Baskara. Sebuah pernyataan yang terasa seperti ajakan—untuk berani menghadapi, bukan menghindari.
“Nafas” sudah bisa didengarkan di Berisik Radio, serta akan tersedia pada seluruh pelantar pengarus musik besok, 24 April 2026. Sebuah rilisan yang tidak hanya enak didengar, tapi juga mengajak kita untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan mungkin—perlahan—memutus siklus yang selama ini kita kira tak terhindarkan.














