Sabtu malam, 9 Agustus 2025, Kedai Nyamin, Semarang, jadi saksi rangkaian kedua showcase “Persinggahan Rihlah” — sebuah pertunjukan musik intim yang menggabungkan unsur spiritual, eksperimen bunyi dan interaksi personal. Acara ini adalah kelanjutan dari edisi perdana yang digelar Bisma Karisma dan kelompok eksperimen bunyi Tridhatu di Suara Dewandaru, Yogyakarta pada 20 Juli 2025.
Bisma, yang dulunya dikenal sebagai personel boyband SM*SH dan kini fokus berkarya sebagai musisi serta aktor, membawa album solonya “Rihlah” (rilis 21 Juni 2024) ke panggung. Album ini memadukan lirik reflektif, nuansa spiritual dan sentuhan musik eksperimental lewat kolaborasi dengan Lafa Pratomo, Alyuadi (Heals), Rizky Parada (Gaung), hingga aransemen ulang karya maestro Harry Roesli. Dalam tur ini, ia berkolaborasi dengan Tridhatu—kelompok asal Semarang yang dibentuk tahun 2018 oleh Aristyakuver dan Andy Sueb, terkenal lewat eksplorasi bunyi yang berpijak pada riset budaya dan seni lintas disiplin.
Setelah mengawali perjalanan di Yogyakarta, edisi ke-dua ini berlangsung di Kedai Nyamin, Jl. Elang Raya No. 28, Mangunharjo, Tembalang, Semarang, mulai pukul 19.00 WIB. Momen ini terasa spesial karena bertepatan dengan bulan purnama, yang menurut Bisma adalah waktu tepat untuk berserah diri dengan tulus.
“Persinggahan Rihlah” dirancang untuk memberi ruang dengar yang berbeda dari konser biasa—bukan sekadar hiburan, tapi pengalaman yang mengajak penonton masuk ke perjalanan batin. Bagi Bisma, rangkaian ini sekaligus menutup satu bab perjalanan “Rihlah”, sebelum nanti ia membukanya lagi di masa depan. Bagi Tridhatu, ini adalah kesempatan untuk menghubungkan riset bunyi dan energi budaya dengan pendengar secara langsung.
Showcase ini dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama dibuka oleh Tridhatu yang membangun suasana meditatif dengan eksplorasi instrumen dan frekuensi bunyi. Sesi ke-dua dimulai dengan kemunculan dramatis Bisma dari belakang penonton sambil membawa bunga sedap malam, memainkan karinding buatan maestro Abah Olot, lalu berlanjut dengan handpan yang nadanya menghanyutkan. Di sesi ke-tiga, Bisma dan Tridhatu berkolaborasi memainkan komposisi intim yang mengalun lembut. Di tengah sesi, penonton diajak mengungkapkan doa dan harapan pribadi, lalu diberi satu batang bunga sedap malam sebagai simbol—ditutup dengan lantunan kata “Amin” yang serentak diucapkan.
Acara di Semarang ini dibuka oleh The Syams, grup musik asal Semarang, yang memberi pembuka energik sebelum suasana dibawa ke momen reflektif. Di edisi Yogyakarta sebelumnya, turut tampil musisi seperti Tahta Manggala (seruling kayu) dan Sunyi Ruri (gitar akustik).
Dengan konsep yang intim, momen personal yang hangat, dan sentuhan artistik yang unik, “Persinggahan Rihlah” bukan cuma sekadar tur album, tapi sebuah ruang untuk menyatukan musik, doa, dan cerita hidup dalam satu pengalaman kolektif yang jarang ditemui di panggung musik Indonesia.














