The Three Musketeers karangan Alexandre Dumas memang sudah diadaptasi berkali-kali ke layar lebar maupun serial televisi. Sutradara Prancis, Martin Bourboulon pun menghadirkan kisah para kesatria kerajaan Prancis tersebut ke layar lebar dalam versinya sendiri, lengkap dengan sentuhan modern, plot rumit, dan persahabatan abadi.
Dalam Bagian I dari adaptasi epik dua bagian dari novel klasik yang awal terbit pada tahun 1844 ini, D’Artagnan (Francois Civil), terkubur setelah berusaha menyelamatkan seorang wanita muda dari aksi penculikan. Ia lalu melacak para penyerangnya sampai ke Paris. Ketika tiba di Paris, ia memulai penelidikan untuk menemukan pelaku penculikan dengan segala cara. Namun, ia tidak menyadari bahwa pencariannya akan membawanya ke medan perang yang mempertaruhkan masa depan Kerajaan Prancis. Ia pun bersekutu dengan Athos (Vincent Cassel), Porthos (Pio Marmaï) dan Aramis (Romain Duris), tiga Kesatria Pengawal Raja.
Para pemeran bisa dibilang tampil dengan apik, walaupun di bioskop Indonesia dialognya disulih suara ke Bahasa Inggris, alih-alih versi aslinya yang berbahasa Prancis. Sinematografinya sangat bagus, dan lokasi syutingnya indah dan realistis. Kostumnya pun bagus. Secara keseluruhan dapat menggambarkan dengan akurat situasi abad ke-17 saat kisah ini terjadi. Alur ceritanya membutuhkan konsentrasi untuk diikuti terutama di bagian-bagian berdialog serius. Porsi cerita D’Artagnan dan pujaan hatinya, Constance (Lyna Khoudri), dapat menghadirkan senyum bagi penonton.
Satu hal yang patut mendapat pujian adalah tata musik yang megah dan diorkestrasi dengan sempurna; sering kali epik dan halus saat dibutuhkan. Komposisi yang luar biasa membuat film “The Three Musketeers: Part I – D’Artagnan” semakin seru untuk ditonton. Bikin penasaran bagaimana Bagian II fillmnya nanti akan mencapai klimaksnya.














