Tiga dekade setelah dunia musik bersatu lewat album amal legendaris “Help” (1995), War Child Records kembali menyalakan api solidaritas lewat rilisan kolaboratif terbaru bertajuk “Help(2)”. Album ini resmi akan dirilis pada Jumat, 6 Maret 2026, bukan sekadar sebagai penghormatan terhadap rilisan ikonik masa lalu, tapi sebagai respons keras terhadap kondisi kemanusiaan global yang kian genting.
Jika “Help” versi orisinal dulu direkam hanya dalam satu hari dan berhasil mengumpulkan lebih dari £1,2 juta untuk membantu anak-anak korban konflik Bosnia, maka konteks dunia hari ini jauh lebih mengkhawatirkan. Pada 1995, sekitar 10% anak-anak di dunia hidup di wilayah konflik. Kini, angkanya melonjak hampir dua kali lipat—1 dari 5 anak, atau sekitar 520 juta anak di seluruh dunia, jumlah tertinggi sejak Perang Dunia II. Di tengah meningkatnya konflik dan menyusutnya pendanaan global, pekerjaan War Child menjadi semakin mendesak, dan semangat kolaboratif seperti “Help(2)” terasa lebih relevan dari sebelumnya.
“Help(2)” digarap melalui kolaborasi erat dengan Abbey Road Studios, dengan sebagian besar proses rekaman berlangsung intens selama satu minggu pada November 2025. Pos produser dipegang oleh James Ford, sosok di balik banyak rekaman penting musik modern, yang berhasil menciptakan ruang kerja penuh spontanitas, empati, dan kebersamaan.
Deretan pengisinya terasa seperti mimpi kolektif para penikmat musik lintas generasi: Arctic Monkeys, Damon Albarn, Olivia Rodrigo, Depeche Mode, Beth Gibbons, Pulp, Sampha, Fontaines D.C., Wet Leg, Big Thief, hingga Young Fathers, dan masih banyak lagi. Semua hadir bukan demi ego, melainkan tujuan bersama.
Arctic Monkeys menyebut proses keterlibatan mereka terasa begitu natural.
“Ketika James Ford menelepon dan meminta kami untuk ikut serta dalam album ‘Help(2)’, kami langsung mulai mengerjakan ide lagu dan berkumpul di Abbey Road untuk merekamnya. Kami bangga mendukung pekerjaan penting War Child dan berharap album ini membawa dampak positif bagi kehidupan anak-anak yang terdampak perang.”
Nuansa solidaritas ini juga diamini Jarvis Cocker, yang kembali melanjutkan hubungan panjang Pulp dengan War Child.
“Tiga puluh tahun lalu kami memberikan Mercury Prize kami (beserta uangnya) kepada War Child. Tahun ini kami memberikan lebih banyak lagi. Berapa banyak? Tunggu tanggal mainnya…”
Bagi James Ford sendiri, proyek ini bersifat sangat personal.
“Saya merasa sangat terhormat ketika War Child meminta saya mengerjakan ‘Help(2)’. Album asli ‘Help’ sangat berarti bagi saya. Di tengah situasi dunia yang sangat sulit, memiliki kesempatan untuk membantu menggerakkan komunitas musik melakukan sesuatu yang sepenuhnya positif—membantu anak-anak di zona perang—adalah keputusan yang jelas.”
Ia menambahkan bahwa prosesnya bahkan terasa menyembuhkan secara emosional.
“Proses pembuatannya sangat kuat dan bahkan menyembuhkan bagi saya secara pribadi. Saya sangat bangga dengan hasilnya.”
Tak hanya kuat secara audio, “Help(2)” juga hadir dengan pendekatan visual yang menghantam nurani. Sutradara peraih Academy Award Jonathan Glazer bertindak sebagai creative director, bekerja bersama Academy Films dan Mica Levi. Mereka mengusung konsep sederhana namun tajam: “Oleh Anak-Anak, Untuk Anak-Anak.”
Anak-anak diberi kamera kecil untuk merekam dunia dari sudut pandang mereka sendiri, termasuk saat berada di studio menyaksikan para musisi bekerja. Tim Glazer juga bekerja sama dengan filmmaker lokal di Ukraina, Gaza, Yaman dan Sudan, mengumpulkan rekaman langsung dari anak-anak di wilayah konflik.
Glazer menyampaikan perasaannya dengan singkat namun bermakna:
“Merupakan sebuah kehormatan dapat menjadi bagian dari tim yang mendokumentasikan upaya kolaboratif yang luar biasa ini.”
Bagi War Child, album ini bukan sekadar rilisan musik.
“’Help(2)’ adalah lebih dari sekadar album. Ini adalah contoh kuat dari apa yang bisa terjadi ketika industri musik bersatu dengan tujuan bersama,” ujar Rich Clarke, Head of Music War Child UK.
“Kami berharap album ini tidak hanya menggalang dana penting, tetapi juga membangkitkan kesadaran bahwa belas kasih harus diwujudkan menjadi tindakan nyata.”
Selama lebih dari 30 tahun, War Child berkomitmen pada satu tujuan: memberikan masa depan yang aman bagi setiap anak yang terdampak perang. Organisasi ini bekerja di 14 negara, termasuk Sudan, Gaza, Ukraina dan Suriah, menghadirkan ruang aman, pendidikan, dukungan psikologis, serta bantuan darurat yang cepat dan tidak memihak.
Album “Help” versi orisinal—yang dipimpin oleh Brian Eno dan melibatkan Oasis, Blur, Radiohead, Massive Attack, Portishead, hingga Paul McCartney—telah mencetak sejarah. Direkam hanya dalam 24 jam pada 4 September 1995, terjual lebih dari 70.000 kopi di hari pertama, memuncaki tangga lagu, serta memenangkan berbagai penghargaan bergengsi. Pengaruh budayanya masih terasa hingga kini.
Dan hampir tiga dekade kemudian, “Help(2)” hadir bukan sebagai nostalgia, melainkan pengingat keras:
tidak ada anak yang seharusnya menjadi bagian dari perang. Kapan pun.
Rock boleh meraung, gitar boleh berisik—tapi kali ini, suaranya membawa harapan.
Berisik Radio ─ Sejak 2009