Damian McCarthy kembali menebar mimpi buruk lewat “Hokum“, film folk horror bergaya gotik yang pelan-pelan merayap ke kepala penonton sebelum akhirnya menghantam lewat teror psikologis yang intens. Setelah mencuri perhatian lewat “Caveat” dan “Oddity“, sutradara asal Irlandia ini sekali lagi membuktikan dirinya sebagai maestro atmosfer mencekam. Diputar perdana di SXSW 2026 sebelum rilis bioskop pada Mei ini, “Hokum” tampil sebagai salah satu horor orisinal paling menarik tahun ini.
Cerita berpusat pada Ohm Bauman, novelis horor sukses asal Amerika yang diperankan sangat solid oleh Adam Scott. Jauh dari persona santainya di beberapa proyek sebelumnya, Scott tampil dingin, sinis, sekaligus rapuh sebagai pria yang dihantui trauma masa lalu dan kecanduan alkohol. Perjalanan Ohm ke hotel tua terpencil di pedesaan Irlandia awalnya hanya untuk menebar abu kedua orang tuanya. Namun suasana The Bilberry Woods Hotel yang suram perlahan berubah menjadi labirin misteri ketika ia mendengar kisah tentang kamar bulan madu terkunci yang dipercaya dihuni penyihir berusia ratusan tahun.
Sejak menit awal, “Hokum” langsung membangun rasa tidak nyaman lewat lorong-lorong sempit, pencahayaan redup dan desain hotel yang terasa “sakit” sekaligus membusuk. Damian McCarthy benar-benar tahu cara memainkan ruang sempit dan kesunyian menjadi sumber ketegangan. Film ini nyaris tidak pernah terburu-buru, tetapi justru di situlah kekuatannya. Penonton dibuat terus gelisah, menunggu sesuatu muncul dari sudut gelap atau balik pintu kayu tua yang berderit pelan.
Yang paling mencolok tentu permainan jump scare-nya. Untungnya, Hokum tidak memakai trik murahan berupa suara keras mendadak tanpa alasan. Semua kejutan dibangun dengan ritme yang matang, sehingga ketika momen horor itu datang, efeknya benar-benar menghantam. Beberapa visual hantu dan transformasi tubuh di film ini juga tampil menyeramkan tanpa harus berlebihan dalam gore. Jadi jangan berharap tontonan penuh darah ala “Terrifier” atau “Saw“. “Hokum” lebih fokus membuat jantung berdebar lewat atmosfer dan tekanan psikologis.
Adam Scott menjadi pusat gravitasi film ini. Karakternya memang kadang menyebalkan, tetapi justru terasa manusiawi. Ada rasa kehilangan, penyesalan dan kehancuran emosional yang perlahan terbuka sepanjang cerita. Elemen acara televisi anak-anak yang terhubung dengan masa lalunya juga menjadi sentuhan unik yang menambah lapisan gelap dalam narasi.
Meski begitu, “Hokum” bukan tanpa cela. Memasuki paruh akhir, film mulai terasa terlalu sibuk menjelaskan mitologi penyihir dan trauma psikologis sekaligus. Beberapa bagian terasa terlalu mudah tersusun seperti kepingan yang kebetulan pas. Ada juga beberapa adegan rubanah dan momen yang seolah dipersiapkan untuk ledakan horor besar, tetapi akhirnya kurang maksimal. Sosok penyihirnya sendiri sebenarnya menarik, sayangnya tidak diberi pendalaman cerita yang cukup kuat.
Walau ritmenya sedikit goyah menjelang akhir, “Hokum” tetap berhasil menjadi pengalaman horor yang menggigit. Film ini tidak mencoba menemukan ulang genre horor, melainkan memoles formula klasik rumah hantu menjadi sesuatu yang terasa elegan, dingin dan menekan mental. Damian McCarthy memahami bahwa rasa takut paling efektif lahir dari suasana, bukan sekadar darah atau kekerasan brutal.
Dengan atmosfer gotik yang pekat, tata suara luar biasa, serta performa kuat dari Adam Scott, “Hokum” sukses menjadi salah satu film horor terbaik 2026 sejauh ini. Sebuah mimpi buruk sunyi yang terus menghantui bahkan setelah lampu bioskop menyala kembali.
Skor: 8/10
Berisik Radio ─ Sejak 2009