Film romantis memang sering hadir sebagai cermin perasaan yang diam-diam pernah dialami banyak orang. “Once We Were Us“, garapan sutradara Kim Doyoung, datang sebagai drama romansa yang sederhana, tetapi mampu menembus ruang emosi penonton dengan cara yang halus sekaligus menghantui. Dibintangi Koo Kyohwan sebagai Lee Eun-ho dan Moon Ga-young sebagai Han Jeong-won, film ini mengisahkan pertemuan kembali dua mantan kekasih yang tak sengaja bertemu di penerbangan menuju Korea Selatan setelah sepuluh tahun berpisah. Dari momen canggung penuh diam, kisah perlahan bergerak melalui kilas balik menuju tahun 2008, saat cinta mereka tumbuh di tengah tekanan krisis ekonomi dan pergulatan hidup yang terasa begitu nyata.

Kim Doyoung, yang sebelumnya sukses dengan “Kim Ji-young, Born 1982“, kembali menunjukkan kemampuannya mengolah emosi karakter secara matang. Penampilan Koo Kyohwan dan Moon Ga-young terasa sangat meyakinkan, membawa penonton menyaksikan transformasi dua insan dari remaja polos menjadi individu dewasa yang dipenuhi luka, harapan dan penyesalan. Keduanya memancarkan senyawa yang kuat, membuat setiap interaksi terasa intim, rapuh, sekaligus menyayat. Hubungan Eun-ho dan Jeong-won diawali dengan kebahagiaan khas cinta muda, sebelum perlahan digerus realitas kehidupan yang tidak selalu berpihak pada mimpi.

Secara visual, “Once We Were Us” menghadirkan pendekatan yang unik dan berani. Adegan masa kini justru ditampilkan dalam hitam-putih, sementara kenangan masa lalu tampil penuh warna. Pilihan artistik ini terasa melawan konvensi, tetapi justru memperkuat atmosfer nostalgia yang ingin dibangun film. Warna-warni masa lalu menghadirkan kehangatan cinta yang telah hilang, sementara realitas masa kini terasa dingin dan penuh jarak emosional. Menariknya, warna baru kembali muncul menjelang akhir film, bukan sebagai simbol kembalinya cinta, melainkan sebagai tanda penerimaan dan kedewasaan dalam menghadapi kenyataan.

Kisah cinta Eun-ho dan Jeong-won sendiri terasa dekat dengan realitas banyak anak muda. Jeong-won digambarkan sebagai sosok yang rapuh namun hangat, seorang perempuan yang selalu mencari makna keluarga setelah hidup sebagai yatim piatu. Ketakutannya kehilangan Eun-ho menjadi konflik emosional yang terasa manusiawi. Sementara itu, Eun-ho adalah pribadi ambisius yang berjuang mengejar mimpi di tengah keberuntungan yang jarang berpihak. Ketika keduanya berusaha mempertahankan hubungan di tengah tekanan ekonomi, impian karier, hingga kondisi kesehatan keluarga, penonton diajak menyadari bahwa cinta sering kali harus berhadapan dengan realitas yang jauh dari romantisme.

Meski begitu, film ini tidak sepenuhnya tanpa cela. Bagian awal cerita terasa terlalu padat dengan berbagai peristiwa besar yang berlangsung dalam rentang waktu singkat, sehingga kedalaman emosional hubungan mereka terasa berkembang terlalu cepat. Namun, setelah melewati fase tersebut, alur cerita menjadi lebih stabil dan emosional. Konflik hubungan, kecemburuan, hingga jarak emosional ditampilkan dengan pendekatan yang lebih halus dan realistis, memberi ruang bagi karakter berkembang secara psikologis.

Moon Ga-young sebagai Han Jeong-won dan Koo Kyohwan sebagai Lee Eun-ho, dalam film "Once We Were Us", yang disutradarai oleh Kim Doyoung - Foto: Covenant Pictures

Sebagai remake dari film TiongkokUs and Them(2018), “Once We Were Us” memang masih setia pada materi sumbernya. Hal ini membuat film terasa aman secara naratif, tetapi juga membatasi eksplorasi tematik yang lebih luas. Meski demikian, kekuatan utama film ini tetap terletak pada kemampuannya menghadirkan momen-momen emosional yang jujur dan menyentuh, terutama dalam menggambarkan penyesalan yang datang terlambat dan kenangan cinta pertama yang tak pernah benar-benar hilang.

Pada akhirnya, “Once We Were Us” bukan sekadar kisah tentang dua orang yang pernah saling mencintai. Film ini adalah refleksi tentang waktu, kesempatan dan pertanyaan sederhana yang menghantui banyak orang: “Bagaimana jika dulu memilih jalan yang berbeda?” Dengan atmosfer melankolis yang konsisten, akting memikat, serta pendekatan visual yang kuat, film ini sukses menghadirkan pengalaman menonton yang menghangatkan sekaligus meremukkan hati. Siapkan tisu, karena perjalanan emosional Eun-ho dan Jeong-won kemungkinan besar akan membuat penonton pulang dengan dada penuh kenangan yang sulit dijelaskan.

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist